Apa kabar mu, Gie? Lama sudah tak ku
dengar tentang mu, tentang cerita-cerita gerakan revolusioner mu yang
militan atau sabda-sabda mu yang kini diagungkan oleh mahasiswa. Kau
sekarang menjadi legenda, Gie. Kisah
hidup mu semasa mahasiswa difilmkan, wajah mu diceta
k menjadi ikon
gerakan mahasiswa, nama mu menjadi garansi eksistensi kaum akademisi
sayap kiri, dan karya-karya puisi mu disukai mahasiswi. Kau hebat,
Gie.apakah kau masih mengingat saya, Gie? iyya, pertama kali kita
bertegur sapa disebuah ruangan secretariat lembaga mahasiswa di Sastra
Unhas.
Saat itu kau menyapa ku melalui buku mu yang mereka beri judul
“Catatan Seorang Demonstran”, awalnya ku anggap kau seorang yang sombong
karena kau menganggap kemandirian dan identitas Negara dapat diraih
dengan jalan sosialisme, kau Marxis yang utopis Gie. belum lagi ketika
kau menceritakan betapa bencinya kau dengan Soekarno, sang proklamator
yang ku idolakan. Tapi itu semua dapat kita diskusikan dalam catatan mu itu.Ku
kira kau seorang Cina yang datang untuk kuliah di Fakultas Ekonomi yang
kemudian berdagang dan menjadi basis komunis di masa mu saat itu, namun
kenapa kau malah tertarik belajar Sejarah dan Sastra, Gie? Saya tahu
perasaan mu sedang kacau saat ini, karena penyebab kematian mu sendiri
tidak kau ketahui, ada beberapa tugas agitasi yang belum kau selesaikan,
ada beberapa rahasia besar tentang gerakan kudeta yang belum sempat kau
kabarkan dan, yaaa..wanita mu, wanita-wanita kesayangan mu tidak sempat
kau kecup satu per satu, sebelum ajal membawa nyawa mu, hilang..
Surat Terbuka Untuk Gie
Ku kira kau sedang kacau, Gie.
Melihat
dulu Soekarno sedang berapi-api dengan proyeksi nasakom nya dan
mengawini Ratna Sari Dewi, entah kau iri atau cemburu Gie, tapi kata mu
kau tidak suka melihat gaya Soekarno yang Glamour ditengah carut marut
rakyat yang menggigit buku karena kelaparan. Tapi kenapa kau harus mesra
dengan Kolonel Sarwo Edhie dan Jendral Prabowo untuk tiap gerakan massa
mu, Gie? Kau pernah lantang menolak intervensi militer dalam kebijakan
Negara tapi kau malah menjadikan mereka sekertaris-rahasia mu untuk tiap
aksi demonstrasi.Dibandingkan saat ini, Indonesia yang Reformasi dengan
mental feodal dan upeti. Kemana kami harus menuntut dan membenci saat
ini, Gie?kami tak lagi punya Soekarno, kami hanya memiliki presiden tapi
kami tak memiliki pemimpin. Entah beliau saat ini mungkin sedang
‘blusukan’ ke pasar-pasar atau mencari tahu kapan Indonesia diserang
Amerika hahaha.. sebenarnya kami,kita saat ini memiliki militer yang
hebat, Gie, jauh melebihi masa mu dulu yang tak tahu apa itu Sukhoi,
Tank Leopard atau Bulk-Submarine, tapi sayang mereka melindungi modal
milyader yang tertanam di darat, laut dan udara, bukannya jaminan
keamanan bagi kami, malah menjadi mesin yang sering kali menakuti kami
ketika mereka dengan sombongnya berderet rapi dijalan-jalan yang siap
menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya. Yaa, kami takut, Gie.
Ku kira kau sedang Kacau, Gie.dulu
kau memiliki banyak sahabat, kau menyematkan tali persaudaraan, melihat
teman-teman aktivis mu saat itu malah merapat menjadi penjilat, melihat
teman mu sesama aktivis yang mendapat jatah kursi dalam pemerintahan
baru rezim orde baru sang Soeharto. Kau iri, Gie? Mereka mulai tampil
bermobil dan berdasi.Sahabat-sahabat mu itu agaknya lupa cita-cita
perjuangan kalian.Lucu juga Gie,
kau mengirimkan bedak dan lipstik ke kantor teman-teman mu yang menjadi
pejabat. Mungkin maksud mu sebagai cemooh agar mereka bisa tampil lebih
‘cantik’ dan semakin sukses menjilat penguasa. Lantas bagaimana saat
ini ketika teman-teman ku yang dulu telah meng-khatam kan Marx lalu
membenci Kapitaisme, Gramsci lalu akrab dengan kata ‘hegemoni’, atau
Pramoedya kemudian memahami perlawanan yang sastra ciptakan, saat ini
mereka berada di bursa Job-Street dengan lembaran penawaran keahlian
mereka mengurusi administrasi kantor, mematok harga atas diri mereka
sebagai budak berdasi yang tak lagi punya mental pembangkang seperti
ketika mereka dengan garang mengancam menabrak tirani hingga menjadi
deburan perlawanan. “dengan cinta dan keras kepala, teriakkan hegemoni
sastra kepada mereka yang tak jelas berkata!” Kau tahu Gie, bagi kami
gelar ‘mahasiswa’ hanya gaya hidup sebagai ‘agent of change’ semata.
Ku kira kau sedang kacau, Gie. Mungkin
karena saat ini kau tahu harga barang-barang belum juga menjadi murah,
sesuai tuntutan mu bersama orang-orang komunis itu saat kalian nyaris
adu jotos. Apakah kau akan kaget jika ku beritahu jika saat ini,
nasionalisme dan patriotisme hanya dimiliki militer, Gie? Bahkan
mahasiswa, teman-teman seperjuangan mu saat ini, yang suka memajang
kutipan mu dan gambar wajah mu serta membeli buku tentang mu, larut
dalam heroisme ilmiah nya mengikuti kompetisi debat politik, Gie. Kami
lebih suka mengamati gerak lakon politik melalui siaran media ketimbang
menganalisa apa yang melatarbelakangi sebuah gerakan politik, seperti
yang sering kau lakukan bersama teman-teman mu sebelum turun
berdemonstrasi. Kami lebih bergairah akan isu-isu politik praktis yang
berimbas pada hak-hak kami serta kerugian-kerugiannya bagi kami, dari
pada isu kemanusiaan yang objeknya telah dihina oleh birokrasi sebagai
pencuri, pemalas, si bodoh dan cercaan lainnya yang dialamatkan pada
mereka hanya karena kasta mereka sebagai kaum pekerja yang tak memiliki
nilai atas dirinya sendiri yang diakibatkan oleh kemiskinan. Yahh,
seperti masa mu, Gie, kemiskinan bukan menjadi tanggung jawab Negara.
Bukan begitu?
Ku kira kau sedang kacau, Gie. Kau
gelisah memikirkan mahasiswa yang berbondong-bondong menjadi
entrepreneur dan motivator dalam forum-forum kampus, kau panik melihat
masyarakat mengutuk aksi-aksi gerakan perlawanan mahasiswa, kau takut
mengetahui saat ini Marx hanya hidup di perpustakaan kampus, digantikan
Andrea Hirata dan Mario Teguh menginspirasi dan menjadi suri tauladan
kami. Kau juga mungkin akan geli, Gie. melihat kawan-kawan mahasiswa mu
yang tak mampu lagi berdiri pada garda terdepan untuk menyatakan sikap
penolakannya, karena tak jarang idealisme telah terbeli oleh manisnya
kehidupan hedonis. Asal kau tahu Gie, generasi mahasiswa kala ini sedang
galau.Sibuk mencari eksistensinya sendiri. Mahasiswa Makassar pun demikian, lebih sering update status Facebook dan Check-in Path.Kau
tahu apa itu Social Media, Gie? Generasi Sosmed, menyedihkan dan jika
kau kemudian ikut arus di dalamnya. Dan kupikir kamu akan terjebak dalam
identitasnya.
Tapi, sudahlah Gie. Mungkin kau akan
menjadi gila tertekan oleh idealisme mu sendiri jika masih berjuang di
sini, di Makassar, masa ini. Masa dimana militansi sosial akan menyeret
mu menjadi agen MLM atau duta politikus kota, semangat revolusi serta
pembangkangan yang kau teriakkan dalam tulisan-tulisan dan jargon
perlawanan tak banyak membuat kami berdiri, tak lain hanya menjadi
slogan patriotik yang kami sendiri tak tahu apa maksud mu berkata,
“Lebih baik mati diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. Saya
tahu, Gie, kau ingin melihat mahasiswa-mahasiswa saat ini, jika
sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau
bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa.
Seperti cara mu dulu menentang penindasan atas kemiskinan, atau
mahasiswa yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah
sebagai kesalahan. Bukan atas kepentingan bendera ormas sayap mereka dan
tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, suku, atau golongan apapun.Itu
utopis, Gie! Kau tak percaya? Lihat saja demonstrasi mahasiswa saat
ini, norak, kampungan! Membentangkan kain putih mengumpulkan tanda
tangan atau membagikan petisi, membagikan bunga, teatrikal hingga
negosiasi dengan birokrasi yang mentok dengan bakar ban, blockade jalan,
kemudian rusuh dengan polisi. Kau muak, Gie? Kami adalah bagian dari
itu semua, Gie. Dulu kami benci sekali dengan mahasiswa oportunis yang
sok-sokan menjadi bagian dari sebuah sistem parlemen. Kami tahu Sistem
itu busuk , Gie, tapi melihat mahasiswa demonstrasi dengan cara ikut
menjadi peserta dalam kongres Pasar Bebas, kami memilih untuk turun ke
jalan, Gie, mengadaptasi jalan perjuangan mu dengan sedikit nyali serta
asa akan tindakan atas sesemenaan, daripada kami pulang ke rumah lalu
menyalakan TV menikmati serial drama Tukang Tuak Naik Haji, Gie.
Saya tidak tertarik dengan cerita petualangan mu, Gie.kau
tidak setangguh adik mu, si Norman yang gempal. Kau seorang petualang
yang kurus kering dengan setelan mahasiswa 60’an yang datar hehehe..
Tapi saya mencintai karya-karya dan pemikiran yang kau bawa ketika pergi
bertualang, saya setuju dengan alasan mu naik gunung. Kau membuat ku
takjub dengan puisi mu tentang lembah Mandalawangi, tentang padang
edelweiss di arcopodo dan konsepsi mu tentang alasan mu naik gunung,
pada sebuah paragraf dinamis yang sangat bermakna,
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami.Kami
katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada
slogan.Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan
slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat
kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat
ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.
Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan
fisik yang sehat.Karena itulah kami naik gunung.”
Mulia sekali rasanya jika memang demikian
tujuan mu membentuk MAPALA UI, disaat krisis kepercayaan menghantam
beberapa teman-teman mu terhadap dilema yang mereka buat sendiri,
tentang eksistensi diri mereka sendiri, kau hadir membawa pencerahan
serupa idealisme dan tatanan gaya hidup, namun sayangnya hingga kini
komunitas pencinta alam serupa yang lahir berkali bergenerasi juga tak
mampu mendefinisikan hakikat keberadaan mereka.
Sudahkah kau terbebas, Gie? terbebas dari
tugas-tugas mu sebagai mantan mahasiswa. Aahh harusnya jangan mati dulu
kau, Gie. Tuntaskan dulu tanggung jawabmu sebagai intelektuil, bukan
aku menyuruhmu malas. Tapi sesuaikan dengan tanggung jawabmu sebagai Agent of enlighment.
Kau bercerita di buku mu itu tentang bidang seorang sarjana untuk
berpikir dan mencipta yang baru.Katamu, mahasiswa harus bisa bebas
disegala arus-arus masyarakat yag kacau, seharusnya mereka bisa berpikir
tenang karena predikat kesarjanannya kelak. Lalu hidup dengan keyakinan
teguh.Karena aku tahu, kau tak mau jadi pohon bambu, kau mau jadi pohon
oak yang berani menentang angin. Karena kau tak mau diam melihat
penindasan. Dan Aku lebih tak suka melihat orang-orang munafik, Gie.Kami
seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang
berani menyatakan pendapat mereka yang tak sebaris dengan kami.
Gie, buatlah saya dan generasi ku
mengerti. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya alat menuju kondisi yang
lebih baik. Ayo bangkit Gie, jangan mati, jangan biarkan kami hanya bisa
nonton sinetron. Tak kasihan kau pada kami? Saya dan si Uun, Uchi, atau
si Andre hingga Ulla, kau tau Ulla kan? Anak sastra inggris 2007 itu,
ia hebat karena mau belajar, sekolah dan membaca, makanannya pun mie
instan serta pisang goreng ketika ia masih kuliah S1 di Unhas,dia baik,
Gie. Bukan sebagai superhero macam Superman, itu cuma dongeng. Kalian
berdua hebat karena peduli dan jujur.ayo
lah, Gie. bangkit dan marahi kami, Tak perlu dengan agitasi turun ke
Jalan, ajak kami agar bisa seperti mu, bisa kau bikin macam Si Rendra
atau pak Ishak Ngeljaratan budayawan dan mantan dosen kami di Unhas, berpuisi. Jangan diam Gie, diam hanya macam orang mati.Kau tak pernah mati, idealisme mu yang menjadi nyawa mu, semangat mu yang menjadi propaganda.
Benar kata mu, orang-orang seperti mu tak
pantas mati di atas tempat tidur, karena tak mungkin kau hanya tinggal
berbaring menyaksikan kepiluan disekitar mu. Saya takut, Gie.saya
takut jika kau ada zaman sekarang dengan idealisme mu seperti itu.
Mungkin kau sudah mati. Mati terbunuh kegelisahan atau bunuh diri oleh
rasa muak mu..
penulis : Nur Ahmad Ansari (E.112.L.O.10.90.FIB-UH) anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas



