Dari semalam sejak “Mahasiswa
dilarang Gondrong” di Universitas Hasanuddin entah fakultasnya apa viral di Facebook dan Twitter
saya,sampai detik ini saya masih merasa
geli dengan aturan yang level wagu dan konyolnya sudah sampai pada level Dewi Kwan Im (Paan c). Karena sejujurnya tak
pernah terbayang aturan ini akan terbit dan dilaksanakan. Bayangkan saja level
wagu-nya ketika aturan ini dirapatkan. Duduklah para professor dan para
cendikia dengan gelar berjejer itu, dengan pembahasan yang seabrek tentunya. Dan
sampailah pada pembahasan “apa solusi supaya
kampus kita punya daya saing dan berkemajuan?, serentak Profesor itu
menjawab,Mahasiswa Tidak Boleh gondrong!!!”duarrr. What a ridiculous. Tentu itu
cuma ilustrasi saja tapi keadaanya mungkin seperti itu ketika keputusan ini
diambil..mwehehehe. Bayangkan mas bro/mba sis menginginkan sesuatu yang
berkemajuan profesornya dengan brilian memberi jawaban sekonyong-konyong butek
seperti itu. kampus punya daya saing dan berkemajuan? berkemajuan Ndasmu.
Eh tapi-tapi aturan macam itu sebenarnya
tidak harus membuat kita ikutan Baper sih mungkin mereka lagi caper saja. Tidak
ada kebaruan di dalamnya, aturannya sangat meng-Endonesa. Aturan-aturan yang sangat mendewakan etalase,plastik, kosmetik dan tik-tik yang lain. Kita tidak tumbuh dengan ajaran isi harus
lebih baik daripada bungkusnya.Kita baru akrab dengan kata inner beauty ketika
kontes ratu-ratuan muncul. kita asik memoles tampakan luar, di dalam masih bregenjeng
itu urusan lain kali. Kita related
dengan aturan “ajaib” ini juga muaranya kesana. Dengan berharap tak ada gondrong
lagi maka Kampus Merah tercinta kita ini akan terlihat lebih bersahaja,elegan
nan Kosmopolitan tapi ketika menelisik kedalam, bapuk boss!!kalau rangorang
sekarang bilang pencitraannya ngehek beud dah.
Kita bergeser sejenak dari citra
ngehek tadi itu. Mari kita membahas lompatan logika dari keputusan ini (yaelah
macam benar saja saya ini). Mudah-mudahan keputusan ini bukan solusi paripurna
dari kemalasan berpikir mencari jalan keluar,mudah-mudahan ini cuma printilan saja. Bukannya apa-apa dengan jargon template yang sering didengungkan
pendidikan kita bahwa kampus harus menciptakan manusia-manusia yang
mampu bersaing secara global, terlihat tak setara dan bagai lelucon jika
memasukkan gondrong sebagai suatu masalah. Logika keputusan menyangkut gondrong
ini memang kadar untuk dicernanya agak susah karena sebulan lalu lewat media online saya
mendapati caption seorang dosen yang mengajar di depan toilet MKU Unhas
gara-gara tidak mendapat jatah ruangan,aneh bin ajaib karena semester sudah
berjalan. Bisa dibayangkan kampus yang sedang menuju level kelas dunia manajemennya
amburadul macam gitu. Belum lagi soalan Toilet/WC, entahlah mungkin sekarang
sudah berubah karena sejak saya kuliah dulu hampir tak ada Toilet yang
menganggap kita manusia, bau pesingnya sampai bisa mematikan nalar. Mesti diingat
persoalan WC ini tak remeh,karena peradaban yang maju salah satu indikatornya
ya tempat buang hajat mereka. Selain WC ,yang paling saya ingat lagi ketika
masih kuliah dulu bagaimana saya dan teman-teman diperlakukan bagai Bandeng
presto, jumlah mahasiswa 50 orang namun dijejalkan di ruangan yang kapasitas cuma
cukup untuk 20 orang dan yang paling epic dari pengalaman saya ini ruangannya tanpa AC. Allahu Akbar
kalau begitu bung. Jadi logika aturan diberlakukan itu untuk memanusiakan manusia kan?,
tapi karena mereka tidak pernah menganggap kita manusia jadi ya logikanya
kebalik-balik dah tuh.
Akh...mungkin kita terlalu baper akhirnya kita kebanyakan nyinyir saja. saya mencoba khusnu'zon meskipun susah. Kalau ada yang jeli melihat aturan ini apalagi yang bermental enterpreneur ada peluang besar bro/sis untuk meraup untung dari aturan ini. jika aturan ini skalanya membesar dan tidak menutup kemungkinan menjadi aturan Universitas berapa banyak gondrong yang harus pasrah dan merelekan mahkota mereka jatuh ketangan pria-pria tangguh asal Madura. Berhubung sekarang zamannya rambut klimis maka di situlah peluang itu terbuka dengan jualan Pomade. Terserah dari yang jenis Water based ataupun Oil based dengan macam varian wangi sesuai selera. Bayangkan 2 % saja dari total populasi di Unhas adalah gondrong berapa keuntungan yang mampu diraup dari situ. Terserah juga cara meng-iklankan-nya bagaimana, bisa memajang photo Graziano Pelle penyerang Southampton yang tampilannnya lebih cocok sebagai eksekutif muda dibanding seorang atlit sepak bola karena pengaruh pomade dirambutnya plus dia berwajah rupawan beud perempuan bisa jadi becek jika melihatnya. Atau malah memajang photo Diego Costa dengan muka bapuk macam satpam kompleks namun sekarang sudah terlihat klimis gara-gara Pomade. jadi Mahasiswa yang mukanya rata-rata air seperti saya akhirnya punya harapan untuk hidup karena kehandalan Pomade....Yaelllaaaaahhhh
Darmawansyah Gunawan
*Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas
Akh...mungkin kita terlalu baper akhirnya kita kebanyakan nyinyir saja. saya mencoba khusnu'zon meskipun susah. Kalau ada yang jeli melihat aturan ini apalagi yang bermental enterpreneur ada peluang besar bro/sis untuk meraup untung dari aturan ini. jika aturan ini skalanya membesar dan tidak menutup kemungkinan menjadi aturan Universitas berapa banyak gondrong yang harus pasrah dan merelekan mahkota mereka jatuh ketangan pria-pria tangguh asal Madura. Berhubung sekarang zamannya rambut klimis maka di situlah peluang itu terbuka dengan jualan Pomade. Terserah dari yang jenis Water based ataupun Oil based dengan macam varian wangi sesuai selera. Bayangkan 2 % saja dari total populasi di Unhas adalah gondrong berapa keuntungan yang mampu diraup dari situ. Terserah juga cara meng-iklankan-nya bagaimana, bisa memajang photo Graziano Pelle penyerang Southampton yang tampilannnya lebih cocok sebagai eksekutif muda dibanding seorang atlit sepak bola karena pengaruh pomade dirambutnya plus dia berwajah rupawan beud perempuan bisa jadi becek jika melihatnya. Atau malah memajang photo Diego Costa dengan muka bapuk macam satpam kompleks namun sekarang sudah terlihat klimis gara-gara Pomade. jadi Mahasiswa yang mukanya rata-rata air seperti saya akhirnya punya harapan untuk hidup karena kehandalan Pomade....Yaelllaaaaahhhh
Darmawansyah Gunawan
*Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas





