Oh, Saya Lupa Presiden Kita Bukan SBY


Pergantian rezim dari SBY ke Pak Joko tak terasa sudah mau mendekati ulang tahunnya yang pertama Oktober besok. Tidak ada yang istimewa-tidak ada yang signifikan berubah dari pergantian rezim ini justru kebanyakan gelut nya. Mulai dari calon Kapolri yang bermasalah,pimpinan KPK yang di prodeokan sampai kocok ulang kabinet. Hal itu menandakan memang ada yang tidak berjalan dan tidak beres dalam setahun kepemimpinan pak Joko. Agak basi memang jika saya mengangkat tulisan macam ini yang isinya terlihat nyinyir dengan Pak Joko ditengah para die hard fans dan Hipster nya yang tumbuh subur semenjak kontestasi Pilpres lalu yang menurut saya maha dahsyat itu. Maka sebelum saya melanjutkan tulisan saya ini saya mau membuat disclaimer dulu agar tulisan ini tidak menjadi bias bahwa waktu Pilpres lalu saya memilih pak Joko untuk menjadi Presiden di samping itu banyak tulisan-tulisan saya sebelumnya menyanjung blio.

Terpilihnya Pak Joko ibarat kita memenangkan Veri di Akademi Fantasi lalu, kita kagum akan persona yang dibangunnya,kita hura-hura mendukungnya sampai ia menang dan setelah itu nothing special. Tak spesial memang ternyata, kita kembali lagi ke frasa "siapa pun pemimpinnya Indonesia ya begini-begini saja". justru yang spesial dari kemenangan Pak Joko adalah tumbuhnya optimisme luar biasa dari kita semua akan masa depan bangsa ter-preet kita ini. Namun lamat-lamat optimisme ini saya rasakan mulai menggerahkan ,mulai pengap yang akhirnya malah menciptakan Favoritisme yang berlebihan, Favoritisme tanpa tedeng aling-aling, taqlid buta, yang ujungnya melahirkan para bigot.  

Kontestasi Pilpres yang hanya diikuti dua orang betul-betul telah membagi kita dalam dua kutub. satu sisi yang tiada hari tanpa kritik menjurus nyinyir di sisi lain tiada hari tanpa memuja dan menjilat pantat pujaannya sampai kering tak bersisa. Euforia yang asing,Euforia yang baru kita rasakan saat ini mengingat ketika rezim lalu cuma ada satu kutub yang tercipta-apapun yang dilakukan pak Beye adalah salah dan semua karena alasan citra.
saya mencoba menjadi waras setelah hampir terbawa favoritisme yang sempat muncul dari pikiran-pikiran saya. saya bergabung kedalam front yang mulai menyadari ke-tidak special-an itu. Namun harus digaris bawahi saya tak lantas masuk menjadi bagian bigot yang menganut paham nyinyirisme. harap dicatat!!!

Kembali ke Favoritisme yang akan menjadi tolak pikir tulisan saya ini. Munculnya paham dan  kalangan ini tidak lebih sampah dari kaum nyinyiris itu. Apapun yang dilakukan pujaanya semuanya pasti benar tanpa pernah mau mencari apa yang sebenarnya terjadi dan sedang berlaku. Kita paham sekarang ini jaman lagi susah-susahnya, ekonomi bablas, terpuruk, dan rupiah terplanting. Semua lini kehidupan terkena imbasnya. Dan para bigot pemuja itu masih saja membela pujaannya bahwa negri ini baik-baik saja. Dia teriak kita tak mengalami krisis, katanya keadaan ini cuma dijadikan kosmetik media yang kontra dengan pujaannya. Jancuk mereka ini, beberapa minggu lalu saya mendengar sepupu saya tidak bekerja lagi karena terkena PHK, disitu saya bergedik dan mulai perlahan menyadari realita, mulai ada yang tidak beres dengan ini. apanya yang baik-baik saja jika ada orang yang di PHK.Baik-baik saja Ndasmu!

Selain cerita dari sepupu tadi, saya banyak menemukan cerita yang berbeda namun iramanya senada. Ada mbah-mbah yang jualan nasi yang penghasilannya turun sampai 75% di dekat tempat saya sekarang, dia bercerita namun tak ada nada keluhan yang saya tangkap dari tuturnya. Saya juga bertemu dengan juragan properti yang bercerita lesunya penjualan. Dari fakta-fakta ini masih bisakah para bigot itu teriak bahwa kita baik-baik saja. Masihkah mereka menjual  kata-kata optimisme demi membela pujaannya. optimisme itu baik tapi apakah mereka akan kenyang dengan optimisme bung?,ingat orang-orang yang saya temui itu tidak mencoba untuk mengeluh. Kenapa ketika di jaman pak Beye lalu kamu, kamu dan kamu tak pernah menggelorakan optimisme? simpan dulu pembelaanmu dan jilatan menjijikanmu itu, bukalah sedikit empati dan simpatimu kepada mereka yang memang lagi kesusahan. Oh saya lupa Presiden kita bukan SBY lagi.

Kemarin saya membaca postingan di facebook yang dikepcer dari Path seseorang yang isinya membela pujaanya termasuk persoalan asap. Nafas saya tersengal setelah membacanya. Biadab ini orang. Apakah dia tidak pernah membaca forum orang-orang yang terdampak asap itu, perih hati abang dek membacanya. Bayi-bayi yang kesulitan bernafas, orang tua yang harus dilarikan kerumah sakit karena radang di paru-paru. Ekonomi melambat,anak-anak tak bisa sekolah karenanya. lihat apa yang dihasilkan favoritisme itu, membuat kita menjadi buta hati dan tak ada ruang untuk empati dan simpati tumbuh. Sekian tahun kita mencecar rezim lalu karena ketidak mampuan nya menanggulangi masalah ini namun ketika rezim sekarang yang jauh lebih letoy menangani soalan ini kamu lantas masih bersorak la la ye ye bahwa pujaanmu hebat tiada duanya.speechless saya. Padahal waktu kampanye lalu pujaanmu itu dengan entengnya bilang persoalan asap adalah persoalan mudah untuk diatasi namun setelah dua bulan bencana itu berlangsung apa hasilnya? foto-foto ditengah lahan bekas kebakaran? What the Hell.

Apa-apa dibela, semua dibela tanpa pernah mencari sisi pertentangannya. Waktu rezim lalu membicarakan koalisi di istana kita ramai teriak bahwa urusan partai jangan dibawa diranah kenegaraan. Tapi ketika pujaannya bicara koalisi di tempat yang sama, mereka mingkem pura-pura gila. Pak Beye mengeluh-curhat karena disamakan dengan kerbau, kamu bully dengan bilang presiden cemen presiden terlalu perasa, namun ketika pujaanmu memenjarakan seseorang yang katanya membully dirinya kamu dukung dengan kata-kata, memang seperti itu hukuman yang pantas untuk mereka,pffttt. Oh saya lupa presiden kita bukan SBY. Hal ini memang wajar terjadi jika favoritisme sudah menjangkiti seperti yang pernah dikatakan Zen Rs "Manusia sebenarnya tidak pernah berfikir. apa yang dimuntahkan pikiran manusia hanya apa yang diketahui,dimana hal itu terkontaminasi favoritisme. hal inipun membuat pikiran kita sempit,membuat kita malas mencari hal-hal lain yang bertentangan dengan favoritisme kita. yang pada akhirnya kita sering menutup mata akan kebenaran dan fakta-fakta yang tak kita (ingin) ketahui."

Kemarin Salim Kancil dibunuh karena menolak pertambangan pasir dan mempertahankan tanah sebagai hak hidupnya. Dia dihabisi secara bengis dan biadab. Salim di setrum kemudian lehernya digorok hingga tewas. Kita menutup matapun akan tahu bahwa ada pelanggaran HAM berat disitu. sebelum kematiannya Salim sudah lama menyuarakan perlawanannya sampai dia pun sudah meminta perlindungan kepada kepolisian jauh sebelum ajal menjemputnya, namun permintaan perlindungan itu tak pernah digubris sampai peristiwa itu terjadi. Saya mengangkat ini karena pemerintahan sekarang lingkarannya banyak di isi oleh aktifis-aktifis HAM. Namun rezim sekarang ketika membicarakan persoalan ini ,terasa hambar, terasa dingin. Apakah karena para aktifis itu sudah kenyang?apakah karena hadiah komisaris utama sebuah BUMN membuatnya tiba-tiba bisu?#eh. Tidak heran memang untuk persolan HAM direzim sekarang terasa masuk angin, pernyataan Anis Baswedan sebagai mentri pendidikan ketika berbicara HAM sungguh ajaib. Dia mengatakan "Bangsa ini tidak akan pernah bergerak maju jika masih dihantui persoalan masa lalu" pernyataan Anis ini ingin menegaskan bahwa pemerintah saat ini tidak concern dalam penyelesaian soalan pelanggaran HAM masa lalu. Dan para aktifis-aktifis HAM yang ada dilingkaran istana pun pura-pura bego,tuli dan bisu, karena apa? karena Favoritisme itu tadi. melihat semua hal ini saya ingin sekali meng-Amin-i apa yang sering dikatakan Sudjiwo Tedjo bahwa pemimpin yang dinabikan akan mematikan nalar. Jancuk!. Ya sudah kalau tak mau teriak tentang HAM di rezim sekarang terus apa makna teriakanmu yang lalu kepada pak Beye dengan soalan yang sama?. Membayangkan semua persoalan diatas terjadi ketika Rezim pak Beye masih berkuasa dengan haqul yakin saya mengatakan pasti akan ada lagi hestek ShameOnYou-ShameOnYou-an yang muncul.B**I



Menutup tulisan ini saya kutipkan lagi pernyataan dari kang Zen Rs tentang soalan HAM ini (Suram saya ini refrensi bacaan saya cuma berputar di Kang Zen Rs saja,hheheheu).

"Bagi mereka yang kehilangan orang-orang tercinta karena kekerasan yang dilakukan negara dan aparatusnya, HAM bukanlah pasal-pasal dalam konstitusi atau kalimat-kalimat indah nan bersayap dalam sebait puisi. bagi mereka,HAM adalah sesuatu yang konkrit dan sehari-hari. 
HAM adalah ketika bangun pagi dan mendapati kamar anak tercinta masih kosong tak berpenghuni. HAM adalah isak sedih dalam hati saat manatap foto suami yang sudah mati. HAM adalah mulut diam terkunci tiap kali ada anak bertanya: Bu,bapak kapan pulang?" 




      



              Darmawansyah Gunawan

 *Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas



   









This entry was posted in

Leave a Reply

    Pengikut

    Redaksi

    Anda dapat berkontribusi dimedia ini. Kontribusi dapat berupa opini, reportase, prosa, review film, buku, musik dan lain-lain. Segera Hubungi kami ! Email : ukmpaedelweis_fsuh@yahoo.com Facebook : Edelweis sastra unhas Twitter : @edelweis_FSUH Redaksi kami di : Gazebo Edelweis Unhas, sekeretariat UKM P.A EDELWEIS FS-UH, Ruang 001-002 Lt. Dasar, Fakutas Sastra, Universitas Hasanuddin, Km 10 Tamalanrea. Kode Pos: 90245 Makassar – Indonesia