Akh…
One Direction ini memang fenomenal, cukup 4 tahun dari awal berdiri,
mereka bisa membuat hampir semua remaja putri seantero Bumi khilaf dan
kejang-kejang karena tergila dengan pesona Boyband asal Inggris ini. tak
ada yang sangsi atas mewabahnya virus yang disebarkan Harry dkk
terhadap budaya pop dunia sekarang. namun tak sedikit juga yang
menyanggah dan membenci mereka. liat saja tagar (#) yang berseliweran
ketika One Direction konser di Jakarta beberapa minggu lalu di Twiter.
ada yang membuat tagar #SaveGBKfromBencong #IDBanci dan banyak hina dina
lain karena katanya Gelora Bung Karno (GBK) hanya didesain untuk
kegiatan olahraga. hehehe hal yang lucu seketika karena waktu Metalicca
dan sang “Nabi” Jokowi memakai tempat itu tak ada tagar Save-save an
yang muncul.
Saya teringat One Direction (1D) untuk
memulai tulisan ini, karena beberapa hari yang lalu saya dengan beberapa
teman ngobrol dan sedikit berdiskusi tentang “keagungan” Machoisme
dalam dunia Mapala (bisa diperluas dengan jenis Pala-Pala yang lain).
One Direction bisa menjadi Thesis di satu sisi dan anti thesis di sisi
yang lain ketika kita berbicara Mapala. 1D menjadi thesis bagaimana
sekelompok pria mendefinsikan ulang tentang apa itu laki-laki. Mereka
tak haram berdandan ria, tak menjadi tabu memakai celana berwarna
terang. semua menjadi sah buat mereka. Dalam sisi yang berbeda 1D yang
tercitra telak bahwa mereka “bencong” dan ‘letoy’ menggiring saya
kembali mengingat tentang Mapala yang amat gembur nan subur dengan
stigma Maskulinitas.
Sudah menjadi rahasia umum dalam dunia ke-Mapala-an bahwa kesan macho
masih menjadi yang di-Pertuan Agung-kan. Sampai sekarang persepsi itu
ada termasuk organisasi yang menaungi blog ini . Bahwa ketika berbicara
Mapala, tak ada tempat untuk sisi feminim manusia untuk tumbuh dan
berkembang. Mapala bagi sebagian orang masih dipandang sebagai
repersentasi kejantanan.
Menjadi Mapala berarti menentukan standar Maskulinitas tertentu-Otot
yang besar, kucel karena cuek,dan alkohol. Ada area-area yang dianggap
tabu untuk dilintasi. Liat bagaimana ketika ingin berangkat ke lapangan
(Gunung, Gua, tebing) semua berlomba-lomba membuat tas bawaan mereka
(Carier) terlihat supaya lebih besar dan lebih berat. Pada lingkar
Perut, bagaimanapun caranya agar secepatnya tercetak 6 kotak di atasnya.
Di bagian yang lain, saya teringat oleh salah satu teman yang hari itu
tiba-tiba memakai behel (kawat gigi), sudah bisa ditebak bagaimana dia
seharian menjadi bahan ocehan dengan kata-kata khas “Mapala kok pake
kawat gigi”, “Mapala kok begitu”, “Mapala kok begini” dan sederet
pertanyaan dan celetukan yang tujuannya menggugat kembali standar
maskulinitas yang tanpa sadar diciptakan sendiri.
Belum lagi ketika ada perempuan mendaftar dan masuk menjadi anggota
Mapala. Sederet pertanyaan seksis akan menggema. “kok perempuan masuk
Mapala?”, “kamu itu perempuan, kenapa mau-maunya masuk Mapala?”.
Fiuh…pasti pertanyaan-pertanyaan itu datang dari laki-laki yang dalam
darahnya terlalu Pede dengan testosteronnya yang sudah overload ataupun
jika pertanyaan itu datang dari sesama perempuan pasti akan berlanjut ke
diskusi memaknai kodrati dan ide dasar kenapa para kader Hawa ini
diciptakan Tuhan.
Memang masalah machoisme dan seksis tak adapat dihindari dan akan terus
ada sampai kapan nanti. Menarik memang melihatnya ketika dunia sudah
sangat jauh berubah. Kalau kaidah machoisme diatas, syarat menjadi
Mapala mungkin saya tak akan pernah lulus. Dengan perut menggelambir
karena buncit saya jauh dari memprersentasikan macho itu sendiri. Tak
ada guratan otot baja dan tulang besi di sekujur tubuh. Saya membuat
malu para geng pengusung kejantanan dalam lingkar Mapala itu. bisa jadi
saya dikatakan gagal bagi sebagian orang menjadi Mapala. Maafkan saya.
Mungkin saya tak bisa menjadi contoh bagi mereka yang masih menuhankan
kejantanan karena saya jauh dari kriteria mereka. Tapi hey saya
tiba-tiba teringat dengan Cristiano Ronaldo. Pemain terbaik dunia asal
Real Madrid ini bagi fans Barcelona dikatakan adalah seorang banci
menyamakannya dengan One Direction. Ini terjadi karena Ronaldo gemar
menghabisakan 30 menit waktunya di depan cermin untuk berias sebelum
pertandingan dimulai. Hmm… dengan badan yang bersayap karena otot yang
tumbuh sempurna plus kekuatan lari yang maha dahsyat masih ada orang
memanggilnya banci. Jika Ronaldo saja yang 100 % sempurna menjadi
laki-laki masih saja dianggap tak cukup pantas masuk dalam kriteria,
bagaimana dengan saya?. Anggaplah Mapala dan sepakbola sama-sama angkuh
mempresentasikan machoisme-nya. Kejam nian orang-orang ini, untuk
menjadi laki-laki saja susahnya minta ampun. Jujur jika badan saya
seperti Ronaldo mungkin saya tak akan pernah memakai baju kemana-mana
mencontoh para Mapala testosteron itu memaknai bagimana laki-laki
harusnya menjadi laki-laki.
Cukup lucu untuk melihat ketika dulu citra Mapala jantan karena dibangun
dengan otot, urakan dan alkohol namun ketika standar itu berubah masih
ada saja yang teriak “hey bung anda sudah di luar jalur”!. Orang-orang
masih belum terbiasa melihat Mapala rapi dan tak kucel lagi, wangi
semerbak dari parfum merk terkenal biarpun cuma KW. Meminum sama
putihnya namun ini dari susu sapi. Memang menggelitik melihat sebagian
orang di dalam Mapala yang belum bisa keluar dari kotak maskulinitas
semu.
Pendeknya begini, semakin kesini orang-orang sudah mulai sadar bahwa
menjadi Mapala tidak harus butek,lusuh dan tak terawatt demi dibilang
jantan. Tak perlu ada perdebatan otot bisep saya lebih besar dari pada
anda-anda. Tak perlu kita menyeringai sinis ketika ada teman Mapala kita
yang secara penampilan sama dengan One Direction. kurang laki-laki apa
Hary Styles dkk bisa melakukan konser 50 kali dalam setahun diseluruh
dunia. Butuh tenaga prima untuk bisa melakukannya . saya tantang anda
bernyanyi dua jam saja tanpa henti sambil jingkrak-jingkrak. Apakah anda
kuat?
One Direction=feminim & Mapala=
Maskulin. Sebuah langgam machoisme yang sudah usang & mestinya
dibuang jauh-jauh. Sebenarnya dengan banyaknya mahasiswi menjadi Mapala
persoalan ini mestinya gugur dengan sendirinya.betul bukan!!!!???? .





... dan kurang feminim apa lagi kalau para "pala-pala" sedang meringkuk di dalam tenda yang sedikit hangat dengan kedua tangannya menggenggam segelas kopi hangat untuk menjauhi dinginnya hawa lereng-lereng perbukitan dan pegunungan, serta bermanja-manja lewat "selfie" feat.Alam Raya.
Salute,Bung.