Sombong Nian Sepakbola Ini !!!

Ini tulisan kesekian saya tentang sepak bola, sayangnya  bukan tentang kemenangan dan haru bahagia tapi masih dengan cerita kusut yang tak kunjung terurai. Sepak bola yang kembali riuh, tetap dengan cerita recycle, episodenya lawas-dibuat seakan-akan baru yang perlahan mulai membosankan. Minggu lalu di tengah-tengah kongres PSSI di Surabaya diiringi hiruk pikuk Bonek (pendukung Persebaya) yang membuat Embong Malang sesak, Menpora Cak Imam Nahrowi dengan sangat berani , yakin dan pasti mengambil keputusan membekukan PSSI. Sebuah kejutan besar setelah pemerintah yang lalu-lalu takut masuk garis, membuat PSSI terlihat bagai mahluk superior-tak tersentuh . Saya tak mau membahas apa dan kenapa PSSI dibekukan disini. Mulai tak menarik juga karena kedua belah pihak punya pembenarannya masing-masing, capek. Lebih baik saya ngalor ngidul saja bagaimana sepak bola di negri gemah ripah loh jinawi ini bisa membuat orang-orangnya gandrung setara demamnya kita dengan batu akik.

Tak ada olah raga sesombong sepak bola di negri ini. Beberapa saat setelah acara beku-bekuan itu dinyatakan, segenap penghuni timeline Twiter saya mendadak gegap gempita. Tak ada yang aneh memang karena kebanyakan following saya adalah akun sepak bola dan beberapa wartawan olah raga. Tapi yang membuat saya “kagum” sebagian akun lainnya yang setiap hari tak pernah sekalipun berbicara sepak bola namun tetiba nyerocos dan akhirnya kultwit, awesome. Mulai dari akun ekonomi,akun  yang setiap harinya cuma bisa nyinyir terhadap pak Joko, akun-akun khilafah, akun politik, akun motivasi sampai akun yang memperjuangkan orang hilang pun ngenTwit saking sombongnya sepak bola di negara ini.

Saya bilang sepak bola kita sombong bukannya tak berdasar. Wajarlah olahraga ini menjadi arogan karena kepopulerannya keterlaluan. Setengah dari penduduk bumi kesengsem dengan permainan indah yang pernah diciptakan manusia ini  termasuk saya, I Love Football so much. Saya kalau boleh mengusul harus ada penghargaan setara Nobel kepada penemu Sepak bola. Tapi dalam konteks Indonesia olahraga ini keblinger sombongnya. Nol prestasi tapi minta diperhatikan lebih. Apa yang bisa dibanggakan dari sepak bola Indonesia. Satu-satunya prestasi tertinggi yang bisa diraih, terakhir terjadi 1991 silam saat mendapat emas Sea Games di Manila. Ingat loh ya Sea Games,yang levelnya cuma satu tingkat di atas PON (Pekan Olahraga Nasional). Setelah itu tak ada, bila pun ada semuanya harus diakhiri dengan kata nyaris atau hampir. Boro-boro Piala Dunia, untuk kejuaraan kelas kampung macam AFF Cup saja kita tak mampu. Tapi lucunya dari ketidak becusan dan kebobrokan selalu saja ada tempat buat kita untuk sepakbola. Sombong nian.

Sepak bola Indonesia ini setara dengan Kapolri yang bermasalah, setara dengan kriminalisasi KPK, setara dengan marah-marahnya Ahok, setara dengan konfliknya Agung dan Bakrie di Golkar. Indikatornya apa?. Liat saja seminggu ini sepak bola kita dengan sangat jumawa “memesan” blocking time pemberitaan. Sampai-sampai  dua televisi berita kita menyajikan kajian mendalam. Mengundang tokoh dan beberapa pengamat untuk membicarakan. Tak ada olahraga lain sepongah sepakbola yang bisa tampil di Mata Najwa sampai 3 kali,tak ada olahraga lain yang bisa dibicarakan oleh Karni Ilyas di ILC selain sepak bola. Apa ada olah raga yang dibuatkan sebuah editorial surat kabar besar macam Media Indonesia selain sepakbola?. Ini pun,sementara saya menulis ini ada dua televisi yang masih membahasnya dengan durasi satu jam. Standing Ovation!!!!

Di bagian yang lain tak ada kongres federasi olahraga selain PSSI yang disiarkan langsung televisi. Tidak untuk PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) sekalipun, dimana prestasinya jauuuuuuuuhhhhhh di atas PSSI,seujung kuku pun tidak akan mampu menyamai. Eh ngomong-ngomong tentang Bulutangkis, apa kabar?. Bicara olahraga Indonesia harusnya bicara olahraga tepok bulu ini.  Bulutangkis bagi negri ini bagai sepakbola bagi bangsa Brazil. Orang-orang Eropa yang memperhatikan olahraga yang membuat Rudi Hartono menjadi satu-satunya orang Indonesia masuk dalam buku rekor dunia ini selalu bilang,bulutangkis seperti diciptakan untuk Indonesia mengacu pada atlit-atlit kita yang katanya punya gaya dan skill yang  unik-alamiah, memang terlahir untuk bermain bulutangkis.  Saya tak akan membahas Bulutangkis lebih jauh yang jelas olahraga kebanggaan kita ini harus diakui prestasinya agak menurun dalam beberapa tahun kebelakang jika kita bandingkan dengan dekade 90an lalu. Olahraga kita yang berprestasi dunia lagi ada sedikit masalah, tapi tak ada orang yang mau membahasnya. Alih-alih televisi riuh memperbincangkan, menayangkan pertandingannya saja tak lagi pernah ada. Saya takut bangsa ini nanti kwalat karena lebih mementingkan sepakbola yang bagai sampah dan membuang Bulutangkis yang sudah jadi berlian untuk kita. Apakah negara ini lupa semua medali emas nya selama ikut Olimpiade dari mana? dari Haji Lulung?. Beda dengan sepakbola, prestasi nol besar tapi ketika bermasalah orang semua ngeyel dan gatal untuk berdebat seakan-akan bangsa ini runtuh tanpa sepakbola. Sudah miskin (prestasi) sombong lagi.preett

Terakhir bagaimana sombongnya sepakbola kita. Saya menghitung sudah 2 kali soalan PSSI dan segala tetek bengeknya dibahas di DPR.  Luar biasa bukan, sampai wakil rakyatpun harus berpikir mengundang PSSI untuk membahas masalahnya. Tapi undangan dewan ke PSSI itu seakan basa-basi saja supaya mereka terlihat bekerja karena cuma membahas hal remeh tentang tehnis liga yang tanpa DPR pun sebenarnya masalah itu bisa selesai di internal PSSI. Tapi ketika banyak pemain terlunta karena tak mendapat haknya-Diego Mendieta yang meninggal tak terurus karena gaji yang ditunggak pihak klub sampai pemain-pemain PSMS Medan yang terpaksa menggelandang di Jakarta dan harus tidur di emperan GBK juga karena persoalan yang sama, bapak-bapak dewan itu kemana. Ya seperti biasa korps Senayan itu hanya bekerja pada apa yang sedang hype apa yang sedang trend saja, demi tabungan politik untuk pemilu depan. eh eh lupa olahraga kita dari kapan tahun gontok-gontokan juga yo. KONI dan KOI bagai Tom dan Jerry selama ini, dua-duanya rebutan mengurus olahraga Indonesia. mestinya ini saja yang diberesin pak tak usah show off memakai sepakbola.

Ah sudahlah masalah itu akan selesai besok atau lusa pun kita tak serta merta masuk piala dunia. Apa tidak capek kelahi dan tengkar  terus. Orang lain sudah membicarakan bentuk permukaan bulan kita masih berdebat dimana yang lebih dulu ayam apa telur. Negara lain sudah meretas mimpinya ke piala dunia kita masih saja berada di bangku-bangku stadion tak bergerak, menunggu sampai lampu mati satu per satu dan perlahan stadion menjadi kosong dan kita pun tertinggal sendirian.

NB: Yang paling Epik dari kejadian beku-bekuan ini tentu saja komentar Nurdin Halid minggu lalu yang mendukung keputusan Menpora...LOL. dunia sudah mau kiamat ini hehehehe.

*Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas 





This entry was posted in

Leave a Reply

    Pengikut

    Redaksi

    Anda dapat berkontribusi dimedia ini. Kontribusi dapat berupa opini, reportase, prosa, review film, buku, musik dan lain-lain. Segera Hubungi kami ! Email : ukmpaedelweis_fsuh@yahoo.com Facebook : Edelweis sastra unhas Twitter : @edelweis_FSUH Redaksi kami di : Gazebo Edelweis Unhas, sekeretariat UKM P.A EDELWEIS FS-UH, Ruang 001-002 Lt. Dasar, Fakutas Sastra, Universitas Hasanuddin, Km 10 Tamalanrea. Kode Pos: 90245 Makassar – Indonesia