Ini tulisan kesekian saya tentang
sepak bola, sayangnya bukan tentang
kemenangan dan haru bahagia tapi masih dengan cerita kusut yang tak
kunjung terurai. Sepak bola yang kembali riuh, tetap dengan cerita recycle, episodenya lawas-dibuat
seakan-akan baru yang perlahan mulai membosankan. Minggu lalu di tengah-tengah
kongres PSSI di Surabaya diiringi hiruk pikuk Bonek (pendukung Persebaya) yang
membuat Embong Malang sesak, Menpora Cak Imam Nahrowi dengan sangat berani , yakin
dan pasti mengambil keputusan membekukan PSSI. Sebuah kejutan besar setelah
pemerintah yang lalu-lalu takut masuk garis, membuat PSSI terlihat bagai mahluk
superior-tak tersentuh . Saya tak mau membahas apa dan kenapa PSSI dibekukan
disini. Mulai tak menarik juga karena kedua belah pihak punya pembenarannya
masing-masing, capek. Lebih baik saya ngalor
ngidul saja bagaimana sepak bola di negri gemah ripah loh jinawi ini bisa membuat orang-orangnya gandrung setara
demamnya kita dengan batu akik.
Tak ada olah raga sesombong sepak bola di negri ini. Beberapa saat setelah acara beku-bekuan itu dinyatakan, segenap penghuni timeline Twiter saya mendadak gegap gempita. Tak ada
yang aneh memang karena kebanyakan following saya adalah akun sepak bola dan beberapa
wartawan olah raga. Tapi yang membuat saya “kagum” sebagian akun lainnya yang
setiap hari tak pernah sekalipun berbicara sepak bola namun tetiba nyerocos dan
akhirnya kultwit, awesome. Mulai dari
akun ekonomi,akun yang setiap harinya
cuma bisa nyinyir terhadap pak Joko, akun-akun khilafah, akun politik, akun
motivasi sampai akun yang memperjuangkan orang hilang pun ngenTwit saking sombongnya sepak bola di negara ini.
Saya bilang sepak bola kita sombong bukannya tak berdasar. Wajarlah olahraga ini menjadi arogan karena
kepopulerannya keterlaluan. Setengah dari penduduk bumi kesengsem dengan
permainan indah yang pernah diciptakan manusia ini termasuk saya, I Love Football so much. Saya kalau boleh mengusul harus ada
penghargaan setara Nobel kepada penemu Sepak bola. Tapi dalam konteks Indonesia
olahraga ini keblinger sombongnya. Nol prestasi tapi minta diperhatikan lebih.
Apa yang bisa dibanggakan dari sepak bola Indonesia. Satu-satunya prestasi
tertinggi yang bisa diraih, terakhir terjadi 1991 silam saat mendapat emas Sea
Games di Manila. Ingat loh ya Sea Games,yang levelnya cuma satu tingkat di
atas PON (Pekan Olahraga Nasional). Setelah itu tak ada, bila pun ada semuanya
harus diakhiri dengan kata nyaris atau hampir. Boro-boro Piala Dunia, untuk
kejuaraan kelas kampung macam AFF Cup saja kita tak mampu. Tapi lucunya dari
ketidak becusan dan kebobrokan selalu saja ada tempat buat kita untuk sepakbola.
Sombong nian.
Sepak bola Indonesia ini setara
dengan Kapolri yang bermasalah, setara dengan kriminalisasi KPK, setara dengan
marah-marahnya Ahok, setara dengan konfliknya Agung dan Bakrie di Golkar.
Indikatornya apa?. Liat saja seminggu ini sepak bola kita dengan sangat jumawa
“memesan” blocking time pemberitaan.
Sampai-sampai dua televisi berita kita
menyajikan kajian mendalam. Mengundang tokoh dan beberapa pengamat untuk
membicarakan. Tak ada olahraga lain sepongah sepakbola yang bisa tampil di Mata
Najwa sampai 3 kali,tak ada olahraga lain yang bisa dibicarakan oleh Karni
Ilyas di ILC selain sepak bola. Apa ada olah raga yang dibuatkan sebuah
editorial surat kabar besar macam Media Indonesia selain sepakbola?. Ini pun,sementara
saya menulis ini ada dua televisi yang masih membahasnya dengan durasi satu
jam. Standing Ovation!!!!
Di bagian yang lain tak ada
kongres federasi olahraga selain PSSI yang disiarkan langsung televisi. Tidak
untuk PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) sekalipun, dimana
prestasinya jauuuuuuuuhhhhhh di atas PSSI,seujung kuku pun tidak akan mampu menyamai.
Eh ngomong-ngomong tentang Bulutangkis, apa kabar?. Bicara olahraga Indonesia
harusnya bicara olahraga tepok bulu ini.
Bulutangkis bagi negri ini bagai sepakbola bagi bangsa Brazil.
Orang-orang Eropa yang memperhatikan olahraga yang membuat Rudi Hartono menjadi
satu-satunya orang Indonesia masuk dalam buku rekor dunia ini selalu bilang,bulutangkis seperti diciptakan untuk Indonesia mengacu pada atlit-atlit kita
yang katanya punya gaya dan skill yang unik-alamiah,
memang terlahir untuk bermain bulutangkis.
Saya tak akan membahas Bulutangkis lebih jauh yang jelas olahraga
kebanggaan kita ini harus diakui prestasinya agak menurun dalam beberapa tahun
kebelakang jika kita bandingkan dengan dekade 90an lalu. Olahraga kita yang berprestasi
dunia lagi ada sedikit masalah, tapi tak ada orang yang mau membahasnya.
Alih-alih televisi riuh memperbincangkan, menayangkan pertandingannya saja tak lagi pernah ada. Saya takut bangsa ini nanti kwalat karena lebih mementingkan sepakbola yang
bagai sampah dan membuang Bulutangkis yang sudah jadi berlian untuk kita.
Apakah negara ini lupa semua medali emas nya selama ikut Olimpiade dari mana? dari Haji
Lulung?. Beda dengan sepakbola, prestasi nol besar tapi ketika bermasalah orang
semua ngeyel dan gatal untuk berdebat seakan-akan bangsa ini runtuh tanpa
sepakbola. Sudah miskin (prestasi) sombong lagi.preett
Terakhir bagaimana sombongnya sepakbola kita. Saya menghitung sudah 2 kali soalan PSSI dan segala tetek
bengeknya dibahas di DPR. Luar biasa
bukan, sampai wakil rakyatpun harus berpikir mengundang PSSI untuk membahas
masalahnya. Tapi undangan dewan ke PSSI itu seakan basa-basi saja supaya mereka terlihat bekerja karena cuma membahas hal remeh tentang tehnis liga yang tanpa
DPR pun sebenarnya masalah itu bisa selesai di internal PSSI. Tapi ketika
banyak pemain terlunta karena tak mendapat haknya-Diego Mendieta yang meninggal tak terurus karena gaji yang ditunggak pihak klub sampai pemain-pemain PSMS Medan
yang terpaksa menggelandang di Jakarta dan harus tidur di emperan GBK juga
karena persoalan yang sama, bapak-bapak dewan itu kemana. Ya seperti biasa korps
Senayan itu hanya bekerja pada apa yang sedang hype apa yang sedang trend saja, demi tabungan politik untuk pemilu
depan. eh eh lupa olahraga kita dari kapan tahun gontok-gontokan juga yo. KONI dan KOI bagai Tom dan Jerry selama ini, dua-duanya rebutan mengurus olahraga Indonesia. mestinya ini saja yang diberesin pak tak usah show off memakai sepakbola.
Ah sudahlah masalah itu akan
selesai besok atau lusa pun kita tak serta merta masuk piala dunia. Apa tidak
capek kelahi dan tengkar terus. Orang
lain sudah membicarakan bentuk permukaan bulan kita masih berdebat dimana yang
lebih dulu ayam apa telur. Negara lain sudah meretas mimpinya ke piala dunia
kita masih saja berada di bangku-bangku stadion tak bergerak, menunggu sampai
lampu mati satu per satu dan perlahan stadion menjadi kosong dan kita pun
tertinggal sendirian.
NB: Yang paling Epik dari kejadian beku-bekuan ini tentu saja komentar Nurdin Halid minggu lalu yang mendukung keputusan Menpora...LOL. dunia sudah mau kiamat ini hehehehe.
NB: Yang paling Epik dari kejadian beku-bekuan ini tentu saja komentar Nurdin Halid minggu lalu yang mendukung keputusan Menpora...LOL. dunia sudah mau kiamat ini hehehehe.
*Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas



