Pacquiao dan Cerita Sedih Olga Syahputra


Usai sudah Mannny 'PacMan" Pacquiao dan Floyd Mayweather pukul-pukulan tadi pagi. Tarung yang digadang menjadi kelahi abad ini, di ring tampak anti klimaks, membosankan. Terlihat Mayweather sangat licik dalam pertandingan tadi dan PacMan tetap dengan gaya merangseknya ala preman pasar. Apa yang diharapkan dari pertarungan yang bernilai Rp 5 triliun itu, ya adu pukul sampai darah penghabisan tentunya. Bukan adu menye-menye dua laki-laki kekar tanpa baju yang saling rangkul selama pertandingan. Terlepas hasil yang kata banyak orang kontroversial namun harus diterima 3 juri sudah memutuskan bahwa Mayweather keluar sebagai pemenangnya. Tak perlu ada perdebatan memang karena statistik jelas Mayweather unggul dibanding Pacman. Akh Sudahlah, sebagai penggemar tinju dadakan saya sudah cukup terhibur dari pertandingan tadi dengan Tobron (Toket berontak) para Ring girl yang gagal diblur televisi kita. 
Statistik pertandingan tadi;

Harus diakui PacMan telah menjadi juara orang-orang bukan saja di Philipina negara asalnya namun juga di Indonesia. Kalau saya disuruh menyebutkan siapa petinju terbesar dan terhebat di dunia ya dengan sangat lantang akan saya jawab Manny Pacquiao. Muhammad Ali besar dan hebat tapi saya belum lahir ketika dia berjaya. Mike Tyson? saya masih terlalu muda waktu itu untuk memahami tinju. PacMan hidup dan besar di era ketika saya sudah beranjak dewasa dan saya betul-betul melihat dia bertarung. itu saja sih kalau saya ditanya alasan memlih Pacquiao sebagai atlit besar tinju yang pernah dilahirkan dunia. 

Terkhusus di Indonesia kenapa PacMan punya banyak penggemar selain karena ada kesamaan ras dengan kita yang sama-sama dari Asia tenggara, mungkin juga karena cerita perjuangan Manny yang lekat dengan keseharian kita. Tak ada alasan memang untuk membenci seorang Pacquiao. Dengan ketenaran yang dimilikinya dia tetap humble dan low profile, sangat jarang senyumannya absen dari wajahnya disetiap kesempatan kita melihatnya. Mengenai cerita Manny, ia lahir di kota terpencil dan miskin di Kibawe, Bukidnon, Filipina. Saat berusia dua tahun, Pacquiao dan keluarganya pindah masuk ke pedalaman di Tango, Provinsi Sarangani.  Di sini, keluarga ini tinggal di rumah petak dengan hanya satu ruangan. Masa kecilnya dia habiskan sebagai buruh nelayan yang hanya dibayar 50 Peso atau sekitar Rp 10.000 perhari.
Pacquiao merupakan anak keempat dari enam bersaudara, dan usianya masih 12 tahun ketika kedua orang tuannya bercerai. Dua tahun setelah perceraiaan tersebut, Paquiao dikeluarkan dari sekolahnya karena tidak mampu membayar uang sekolah dan pindah ke Manila untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di Manila Pacquiao hidup dijalan, hingga akhirnya dia mulai untuk berlatih tinju dan menjadi anggota tinju amatir. Tiga tahun kemudian, dia memutuskan untuk mengejar karier sebagai seorang petinju profesional dan itu yang selalu disebut sejarah. Dengan semua prestasi yang telah diraihnya, Manny Pacquiao tetap menjadi sosok yang ramah dan menjadikan perjuangan yang dia lakukan di masa lalu untuk mencapai kesuksesan. Terutama saat dia bercerita mengenai masa kecilnya. Pacquiao mengatakan “Aku ingat ketika kecil aku hanya makan sekali saja dan terkadang tidur dijalanan. Aku tidak akan melupakan semua itu dan hal tersebut yang menginspirasiku untuk tetap kuat dan membuat semua orang di negaraku memikirkan hal yang sama, yaitu untuk mendapatkan hal yang terbaik yang mereka inginkan.”

Secuplik cerita getir yang akhirnya mendapatkan kesuksesan besar itu memang sangat akrab dengan kita yang ada di Indonesia. Kita ini suka yang namanya drama-drama-an. Cerita seperti Manny Pacquiao sangat banyak di Indonesia, cerita-cerita khas negara dunia ketiga. Liat saja kita terrenyuh sedih mendengar latar belakang Veri AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang hanya seorang tukang becak. Yakin saya bukan karena suaranya yang bagus bin merdu tapi karena cerita sedih yang menyertai, membuat kita rela membuang pulsa untuknya biarpun hanya sekedar SMS yang akhirnya membuat dia menjadi juara. Cerita haru biru lain datang dari ajang yang sama tapi beda merk, Ikhsan Idol juara tak lain tak bukan 11 12 dengan Veri. Ikhsan datang dari kesederhanaan seorang anak tukang becak dan buruh tani yang membuat kita mellow lagi dan akhirnya kembali memenangkannya. Yang terbaru mungkin almarhum Olga Syahputra, semoga damai untuknya. Dia menjadi komedian terkaya di negri ini tak lantas instan, dia juga berjuang dari bawah sama dengan Manny. Sering kita mendengar dia "curhat" dalam beberapa kesempatan menceritakan perjuangannya. Dengan gigih sedari pagi dia mendatangi setiap lokasi syuting dengan harapan ada sutradara yang meliriknya biarpun hanya sekedar Extras yang bertugas untuk la...la..la..ye..ye..ye saja. Ketika kesuksesan perlahan menghampiri pun dia masih tinggal di rumah susun di bilangan Tebet,Jakarta selatan atau cerita-cerita dia yang terpaksa harus berhutang kewarung hanya sekedar untuk bisa makan. 

Cerita-cerita macam Manny maupun Olga memang masih menjadi salah satu genre yang kita sukai. kita senang melihat seseorang dari bawah dan akhirnya menjadi besar. Kita senang dengan cerita yang membuat mata berkaca. Kita suka novel Laskar Pelangi, kita suka novel Negri 5 Menara karena ada kisah setara Manny di dalamnya. Kita memilih SBY menjadi Presiden ketika 2004 lalu karena ada drama melankolia dia dan Megawati mewarnai. Mungkin ibarat aliran musik bangsa kita ini EMO. Thats why we love Manny Pacquiao

*Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas

  

This entry was posted in

Leave a Reply

    Pengikut

    Redaksi

    Anda dapat berkontribusi dimedia ini. Kontribusi dapat berupa opini, reportase, prosa, review film, buku, musik dan lain-lain. Segera Hubungi kami ! Email : ukmpaedelweis_fsuh@yahoo.com Facebook : Edelweis sastra unhas Twitter : @edelweis_FSUH Redaksi kami di : Gazebo Edelweis Unhas, sekeretariat UKM P.A EDELWEIS FS-UH, Ruang 001-002 Lt. Dasar, Fakutas Sastra, Universitas Hasanuddin, Km 10 Tamalanrea. Kode Pos: 90245 Makassar – Indonesia