Tanpa meminta paspor tanpa bertanya
nama, nelayan-nelayan Aceh mengerahkan semua kapal-kapalnya untuk menolong pengungsi
Rohingya yang terdampar di perairan Aceh setelah terombang ambing hampir dua bulan
di lautan. Alasan mereka cuma satu, ada orang-orang yang hampir meregang nyawa dan
berteriak minta tolong, sebagai manusia mereka menolongnya. Cerita yang saya dapatkan dari cuitan Step Vassen jurnalis Al Jazeerah lewat twiternya itu membuat saya merinding
dan bergedik dalam satu waktu.
Setelah di pimpong secara politik
oleh pemerintah 3 negara Indonesia, Thailand, dan Malaysia karena menolak mereka,
para nelayan Aceh itu seakan menjadi antithesa-nya. Tanpa babibu mereka berbuat atas
nama kemanusiaan. Akh orang Aceh ini memang selalu membuat saya kagum. Negeri
yang punya riwayat kelahi dan khianat ini selalu punya caranya sendiri untuk membuat
kita terperangah.
Berbicara soalan Rohingya, ada
yang aneh menurut saya karena dunia seakan diam padahal menurut saya Rohingya adalah
masalah kemanusiaan yang sangat-sangat serius. Bayangkan saja di negri asalnya
di Myanmar mereka tak pernah diakui sebagai warga negara padahal mereka sudah berdiam
di sana puluhan tahun mungkin ada yang sudah beratus tahun. Mereka tak diakui oleh pemerintah Myanmar dengan alasan
yang tak masuk akal karena perbedaan ras dan agama dengan mayoritas orang-orang
di sana. Perlu diketahui etnik Rohingya ini berada di negara bagian Arakan di Barat
Myanmar yang berbatasan langsung dengan Bangladesh jadi tidak heran rupa mereka
memang berbeda, wajah-wajah khas Asia selatan (India, Pakistan, dan Bangldesh) dibanding
dengan mayoritas Myanmar yang Indocina. Namun itu bukan alasan saya kira untuk mengusir
mereka dari tanah nya sendiri.
Mereka (Rohingya) berpuluh tahun mengalami
diskriminasi luar biasa, malah selama 17 tahun ini ada kesan terjadi etnic cleansing/genosida
di sana. Kesan itu semakin kuat kalau kita
melihat khotbah-khotbah para Biksu, pemuka agama Budha yang kebetulan mayoritas
di sana. Saya mendapati di youtube khutbah seorang Biksu besarasal dari
Mandalay (kota terbesar kedua di Myanmar) mengatakan bahwa. “Myanmar harus bebas
dari muslim dan Islamnya karena jika mereka berkembang itu berarti kehancuran buat
kita”.Bukan saya bermaksud berbicara soalan agama di sini tapi kalau anda-anda punya
waktu luang membuka Google atau pun Youtube pasti anda akan mendapati fakta ini. Memang
sudah menjadi rahasia umum bahwa para Biksu di sana yang menajadi penggerak beberapa
pembantaian orang-orang Rohingya di sana. Dan sekali lagi mereka, Biksu-Biksu ini
dengan jelas dan lantang mengakui bahwa mereka membenci Islam.
Bukan,bukan karena saya Muslim
dan Islam saya berbicara ini dan bukan juga karena saya menjunjung ukhuwah yang
diajarkan agama saya tapi saya hanya mau mengkritisi kenapa dunia diam akan masalah
ini. Ada sekelompok kecil manusia yang hanya ingin hidup tapi malah diperlakukan
bagai binatang karena hanya mereka berbeda dengan yang lainnya,
Yang paling konyol dari masalah ini
adalah pernyataan Aung sang su kyi, penerima Nobel perdamaian asal Myanmar ini malah
berkomentar seakan menegasi ada pembantaian di negaranya dan mengatakan itu hanyala
problem kecil. Fuck. Kenapa orang ini
bisa-bisanya menerima Nobel perdamaian. Saya semakin percaya memang ada
sentiment personal sebagai penganut Budha terhadap Islam didiri perempuan yang
menerima Nobel gegara menentang Junta ini.
Ada yang mengatakan, inikan cuma masalah
kemanusiaan biasa, masalah pengungsi dan imigran.oke oke
tapi menurut saya kenapa soalan ini menjadi tak biasa adalah harus diingat
Rakhni propinsi yang menjadi tempat para Rohingya ini bukan area konflik,bukan
daerah perang,mereka passif. Tak ada isu separatisme di dalamnya. Berbeda kasus
yang terjadi di Pattaya Thailand selatan dan Mindanao di Philipina selatan juga
yang sangat kencang isu separatisme menggunakan Islam. Jadi jelas ada kesan pembersihan
etnis di sana.
Dari beberapa fakta di atas dunia
sampai kini masih diam. Opininya digiring ke masalah pengungsi dan imigran tapi
menutup mata pada akar soal nya, ada genosida disitu. Kemanusiaan yang
memilah,ya itu yang terjadi dan sangat terasa sekarang. Dunia heboh ketika
wartawan tabloid Charlie Hebdo ditembak oleh beberapa orang yang katanya Muslim
dan Islam. Semua pemipimpin Negara Eropa mengutuk dan beraksi dengan turun ke jalanan
Paris dan meminta semua Muslim di dunia untuk meminta maaf.what the hell going on???.
Sebuah majalah yang isinya menyebarkan kebencian dilindungi atas nama freedom
of speech tapi ketika ada sekelompok manusia didera dan dibunuhi hanya karena
dia seorang Islam,dunia tergagap,apa tak malu?. Ayo ulangi lagilah long march
yang di Paris itu dan berbicara lantang juga tentang kemanusiaan terhadap para Rohingya ini. Ayolah
satu kali saja.saya memohon!
Di dalam negri tak kalah lawak.waktu
Charli hebdo, ustad-ustad yang katanya berpikiran terbuka itu kultwit dan
banyak bicara. Tapi ketika ada yang dekat dan mereka sebenarnya mengetahui
fakta yang terjadi eh malah mingkem. Masalah Ahmadiyah dan Syiah Sampang juga
begitu mereka teriak paling keras masalah kemanusiaan sekarang membisu. Standar ganda memang ada
disitu dan polanya jelas. Kalau Islam sebagai subjeknya mereka mengambil
panggung tapi kalau Islam yang menjadi objeknya mereka tiba-tiba masuk angin
karena takut dikatakan kolot. Alah standar ganda maning. sekali-kali pakai
standar samping bro!!!!
*Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas
Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas
.




