Sanksi FIFA dan Meweknya Eva

Suram saya ini, pernah sekali waktu saya tak mau lagi menulis tentang sepak bola tapi tak tau kenapa tangan ini gatal untuk menjadi bagian para hipster lainnya untuk nyerocos lagi dan lagi tentang sepakbola. iya suram memang, apa menariknya sih kita bicara sepakbola negri ini. kelahinya? capek boss. prestasinya? nothing boss. terus apa? oke-oke saya gatal karena liat narasi-narasi televisi seminggu ini. terlalu drama mereka. jancuk ne pol-polan  kata orang Surabaya.

PSSI akhirnya kena tilang per hari ini (30 Mei 2015) dari FIFA melalui rapat para Exco nya di Zurich, Swis. akhirnya kejadian juga. ya mau bagaimana lagi. menurut saya itu konsekuensi logis dari apa yang kita tuntut selama ini-perubahan. untuk masalah perubahan dan perbaikan sepak bola setelah kena banned biarlah pak Imam selaku Menpora dan Tim Transisi nya pusing memikirkan.  saya sebagai penikmat bisa apa, toh masih ada liga negara orang yang biasa kita tonton,kita komentari dan kita Twitwarkan setiap akhir pekan. selow men selow....

Kembali lagi soalan televisi-televisi itu. Tiba-tiba menjadi melankolis memikirkan nasib pemain kita imbas berhentinya kompetisi. Melihat itu, reaksi saya cuma satu "dari mane aje boss?" tidur ente???. jangan karena akhir-akhir ini rating berita sepakbola lagi tinggi-tinggi nya, ikutan juga nyempil ambil peran tapi tak tau keadaan. Begini ya kalau narasi berita yang diangkat tentang nasib pemain yang tak mendapat pemasukan, saya sepakat tapi kenapa baru sekarang teriaknya bos. sebelum liga tahun ini terhenti pun masalah itu juga sudah ada dan jamak, parahnya ada yang belum terselesaikan sampai sekarang. sok-sok bicara masalah kesejahtraan pemain, pas Diego Mendieta meninggal karena Tipes, mingkem. Diego itu meninggal karena tak mampu bayar rumah sakit karena gajinya yang hampir semusim tak dibayar pihak klub. Pernah dengar tak 11 pemain PSMS Medan tidur di emperan Gelora Bung Karno (GBK) karena gajinya tak terbayarkan hampir sebelas bulan. mereka cuma menerima gaji setengah bulan saja sisanya nihil. Mereka dipaksa bermain tapi tak digaji,masuk kategori perbudakan itu. Teriak nda ente tentang ini?

Oh iya ada yang lawak dari kasus-kasus di atas. PSSI waktu itu menyikapi persoalan seirama dengan lagunya Duo Maia-EGP (emang gue pikirin). Iya statemen Joko Driyono selaku Sekjen PSSI dan CEO PT Liga malah bilang itu bukan ranah kami itu tanggung jawab klub, parahnya lagi pemain yang melapor bahwa mereka tak digaji oleh pihak klub malah mau di polisikan oleh PSSI karena katanya mempermalukan sepak bola Indonesia.Waddepak. Mempermalukan?? logika bos logika. Mempermalukan itu ketika kita dibantai Bahrain 10-0. Mempermalukan itu ketika tim junior kita dikalahkan Timor Leste di Solo, itu baru namanya mempermalukan kita. malu sangat saya. Kok malah mengadukan nasib dikata mempermalukan sih dasar laki-laki tak punya kemaluan ente #eh. Sudahlah, sebenarnya masih banyak kasus serupa hampir seratusan kasus malah berdasar rilis dari APPI (Asosiasi Pemain Profesional Indonesia) dan belum terselesaikan sampai sekarang. Mestinya televisi-televisi itu teriak terus sepanjang waktu supaya kasusnya tak menguap begitu saja. Jangan karena sekarang rating lagi tinggi jadi sok peduli. 

Dari semua kelakuan televisi-televisi itu yang paling CE to the TAR-CETAR, ya televisi merah itu. Dia mengajak Eva istri Christian Gonzales untuk safari di beberapa programnya. Eva "dipaksa" mewek bercerita tentang nasibnya yang tak bisa makan karena kompetisi yang terhenti katanya. Gini ya mba, Suamimu itu termasuk pemain termahal loh di Indonesia. Suami mu itu punya bayaran di atas 1 M,bukan 1 ember ya mba tapi 1.000 juta. uang semua itu. Masa sih tak bisa makan. Saya pertegas lagi ya mba, pemain bola kita itu sekarang bergaji setara Manajer perusahaan besar loh. Pemain yang ecek-ecek saja, sekarang nilai kontraknya tidak ada yang di bawah 100 juta permusim. Jadi kalau kita bandingkan dengan pendapatan perkapita negri ini yang cuma 30 juta ya jadi tidak masuk akal kalau tak bisa makan. Apalagi mba istrinya Gonzales yang punya nilai kontrak 1 M jadi pendapatan mba ini kurang lebih 100 juta perbulan. 100 juta. Belum lagi bonus dari klub dan royalti iklan Sosisnya, begh-jangan lupa 2 setengah persennya untuk anak yatim yo. Eh tapi..denger-denger mba ini saya cuma dengar-dengar loh mba. Anda menangis mungkin bukan karena tak bisa makan tapi katanya tak kuat bayar apartemen  yang di Belanda ya mba?hmmmm.

Oke berhubung saya sudah ngantuk dan saya juga tak tau bagaimana menutup tulisan ini maka dari itu dan karenanya saya akhiri saja tulisan ini dengan kutipan dari Suporter Thailand " Sepak Bola luar itu hiburan, sepak bola dalam negri ada di dalam darah". Sadakallahul azim  
  
Darmawansyah Gunawan

Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas





    





This entry was posted in

Leave a Reply

    Pengikut

    Redaksi

    Anda dapat berkontribusi dimedia ini. Kontribusi dapat berupa opini, reportase, prosa, review film, buku, musik dan lain-lain. Segera Hubungi kami ! Email : ukmpaedelweis_fsuh@yahoo.com Facebook : Edelweis sastra unhas Twitter : @edelweis_FSUH Redaksi kami di : Gazebo Edelweis Unhas, sekeretariat UKM P.A EDELWEIS FS-UH, Ruang 001-002 Lt. Dasar, Fakutas Sastra, Universitas Hasanuddin, Km 10 Tamalanrea. Kode Pos: 90245 Makassar – Indonesia