Menye-Menye Tolikara



Idul Fitri tahun ini mungkin yang paling riuh. Bukan karena petasan atau gema takbir yang saling bersahutan tapi kejadian aneh bin ajaib yang terjadi di papua tepatnya di Tolihara. Yup aneh bin ajaib menurut saya, negri dengan mayoritas Muslim dengan presentasi 90% ini salah satu Mesjidnya dibakar oleh beberapa “oknum” pemuda yang disebut dari organisasi gereja tertentu. Sama anehnya jika kita mendengar ada Gereja dibakar oleh sekelompok pemuda Muslim di Amerika atau Klenteng  dirusak oleh beberapa orang Kristen di China. Tidak ada orang yang menyangka itu bisa terjadi tapi kenyataannya memang demikian terlepas dari konteks siapa Mayor dan siapa yang minor di Tolikara tempat terjadinya pembakaran.

Saya bukan siapa-siapa memang untuk berkomentar tentang kejadian ini. Saya tak punya teori ini teori itu tapi bukankah tak perlu menjadi seorang expert untuk bisa beropini? So bebas-bebas saja kan. Saya tak perlu menjadi orang Papua dulu untuk bisa bicara tentang ini, saya juga  tak perlu pernah ke Papua untuk ngoceh soalan ini. 

Terlepas dari banyaknya versi tentang kejadian ini bahwa ini yang memulai, ini yang salah situ yang benar ,bukankah persoalan ini sudah menjadi clear ketika ketua PGI (Persatuan Gereja Indonesia) dan pengurus GIDI (Gereja Injil di Indonesia) selaku pihak yang katanya menyerang dan membakar Mesjid melakukan jumpa pers dan mengucapkan permohonan maaf atas kejadian ini.  Jadi tak usah lagi koar ngoceh dengan beragam ketebelece, di sana jelas ada Intoleransi .Stop di situ.

Intoleransi menjadi kata kuncinya. Sesuatu yang membuat kita selalu berpura dan membohongi diri bahwa hal itu tak ada di Indonesia ter-preet kita ini. Kejadian di Tolikara sama yang terjadi di Ciekusik, sama yang terjadi di Sampang, sama yang terjadi di Temanggung. Semuanya tentang pengrusakan rumah Ibadah.  Kaum Ahmadi di Ciekusik dan warga Syiah Sampang-rumah Ibadah mereka dirusak dan terpaksa terusir dari rumahnya sendiri cuma karena mereka berbeda dengan Muslim kebanyakan. Di Temanggung gereja dibakar oleh beberapa ‘oknum’ Islam yang merasa paling benar dunia khirat. Pun begitu juga Tolikara ada sekelompok Kristen yang merasa punya kuasa untuk melarang pembangunan Gereja yang tak sealiran dengan mereka, sekelompok Kristen yang merasa perlu melarang umat Muslim untuk tak melaksanakan Shalat Ied agar kegiatan mereka tak terganggu. Belum lagi kita berbicara jemaat  GKI Yasmin Bogor yang dilarang beribadah di gereja mereka sendiri atapun pelarangan pembangunan Mesjid di Bali. Dari semua kejadian itu masihkan kita pura-pura gila?

Tapi eits ngomong-ngomong soal gila, banyak yang menjadi seperti itu gara-gara kejadian ini.  Ada macam mas Piyu (Piyungan) dan yang Mulia Hafidz Ary , sekan mendapat momentum, lewat akun twiternya, mereka terus menebar kebencian terhadap teman-teman Kristen. Tak tau kenapa mereka seakan Insecure dengan Iman Islamnya sedangkan mereka hidup di Indonesia tempat di mana Muslimnya Overdosis. Tak mau kalah dari Mas Piyu dan Hapid, as always as usual Habib Riziq dan FPI nya malah jauh lebih gila, mereka mau Jihad men, cadas. Apa tak capek mereka dengan Ambon dan Poso. Apa tak capek mukul-mukulin orang. Apa yang mau dimenangkan di sana. Kekerasan dibalas kekerasan ya amsyiong hasilnya. 

Tapi yang gila bukan saja dari kalangan Islam yang Kristen ada juga yang ikut-ikutan. Beberapa hari yang lalu saya dikirimi postingan berita di facebook dengan komentar dahsyat yang mengacu dari temuan Komnas HAM di lapangan, dia mengatakan “bukan kta yang membuat masalah tapi umat Muslim  yang mulai duluan, BIASA umat Muslim di mana-mana menebar pedang dan jadi pengacau”. Saya senyum saja membacanya, mungkin teman kita ini alpa bahwa dia tinggal di Indonesia yang Mayoritas Muslim tapi bisa hidup tenang disini, tak ada yang melarangnya untuk beribadah. Kalau ketemu teman ini saya mau sekali bertanya, kapan dia pernah melihat misalnya tetangganya yang Muslim bawa pedang sambil meracau di daerahnya. Membunuhi keluarganya karena dia Kristen. Tak ada pasti. Apa teman ini pernah dengar masalah GKI Yasmin di Bogor, jemaatnya dilarang beribadah di gerejanya sendiri. siapa yang membela dan memperjuangkan hak-hak mereka? Paling banyak aktivis HAM dengan Islam sebagai agamanya. Over generalisasi teman ini. Apakah anda mau saya samakan dengan orang-orang yang di Tolikara itu, tidak pasti. So stop berhalusinasi.  

Menye-menye lain datang dari para Intelektual dan para orang-orang pintar. Sejak kejadian ini, banyak analisa yang dikeluarkan mulai dari teori konspirasi sampai soal penambangan. Yah jauh amat bang, bagaimana kalau teori-teorinya di simpan dulu terlalu jauh saya kira padahal ada yang jelas di depan mata. Hukum tak jalan dinegri ini. Kejahatan kalau tidak dihukum pasti akan terulang entah oleh pelakunya terdahulu atau diikuti oleh yang lain. Berapa banyak kasus Intoleran yang selesai? hampir tidak ada.  Heran juga tiba-tiba banyak analisis padahal kasusnya cuma soal Intoleran, apa karena ini di Papua?. Di luar Papua ngebom secuil Gereja saja di uber Densus apalagi ini membakar sampai hangus rata dengan tanah, loh kok bisa jadi beda cara pandang. Pakai teori ekonomi lah, teori konflik adat lah sampai yang paling absurd pakai teori gegara Speaker. Mutar-mutar cari pembenaran,faktanya ada ibadah yang dibubarkan dan tempat ibadah yang dibakar. Hardcore denial !!!, intinya biar kata Islam, Kristen,Hindu, Budha, nyembah pohon, nyembah motor , nyembah Akik kalau mereka rusuh yang WAJIB di hukum. Apa karena kita telah nyaman mengutuk FPI,HTI dll sampai kita tak berani mengutuk organisasi macam GIDI?

Diakui apa tidak Ke-Bhinneka-an kita jauh dari kata selesai. Ibarat manusia kita baru merangkak untuk saling memahami. Perbedaan yang  selalu kita katakan Indah tapi ada potensi persoalan yang besar disitu apa lagi sesuatu yang amat suci seperti Agama. kita terlalu memaksa Indonesia untuk menjadi mapan dan dewasa.  Menutup ke-sok tahu-an saya tentang masalah di Tolikara, Cikeusik, Sampang dll saya kutipkan sepenggal kata-kata Kahlil Gibran “Mereka lebih mencintai agama mereka dari pada Tuhan mereka”

NB: ke-sok tahu-an saya diatas semuanya belum tentu benar tapi juga belum tentu salah yang jelas argumentatif….

*Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelwesi Unhas

This entry was posted in

Leave a Reply

    Pengikut

    Redaksi

    Anda dapat berkontribusi dimedia ini. Kontribusi dapat berupa opini, reportase, prosa, review film, buku, musik dan lain-lain. Segera Hubungi kami ! Email : ukmpaedelweis_fsuh@yahoo.com Facebook : Edelweis sastra unhas Twitter : @edelweis_FSUH Redaksi kami di : Gazebo Edelweis Unhas, sekeretariat UKM P.A EDELWEIS FS-UH, Ruang 001-002 Lt. Dasar, Fakutas Sastra, Universitas Hasanuddin, Km 10 Tamalanrea. Kode Pos: 90245 Makassar – Indonesia