Selain Angeline hiruk pikuk lain
negri ini juga datang dari senayan. Beberapa minggu ini tersebar wacana adanya
dana aspirasi untuk anggota DPR yang kalau di total untuk keseluruhan anggota
berkisar 7 triliunan. Angka yang maha besar jika digunakan betul-betul untuk
kemaslahatan umat. Saya terserah jika tujuannya baik. Tapi mari kita cermati
baik-baik. Dana aspirasi itu diberikan ke dewan dengan
rincian 20 M per anggota. Dari persebaran kursi, ya kita sudah tau sendiri
bahwa Jawa dan Sumatra merupakan pemegang kursi terbanyak dengan kata lain uang
nya ya ke Jawa lagi ke Sumatera lagi. Jadi kalau rinciannya 550 anggota Dewan
ada 400 an kursi lebih untuk Dapil Jawa dan Sumatra itu artinya dari total dana
yang 7 triliun itu sudah dipastikan 90% nya mampir ke barat Indonesia lagi
sedangkan di Timur makin merana tak tersentuh.
Masalah akut kita tak terpecahkan lagi bagaimana ingin kita semua
pembangunan di Indon ini merata. Saya
tak tau di Jawa itu mau membangun apa lagi, pulau yang majunya sudah
keterlaluan itu dapat suntikan dana besar lagi dan lagi sedangkan di Timur memble.
Ngomong-ngomong dana 7 triliun
itu saya mau melencengkan sejenak ke helatan Sea Games yang baru selesai minggu
lalu. Seperti diketahui kita cuma nangkring di posisi ke 5 dengan 47 keping
emas. Raihan terburuk kontingen kita sepanjang sejarah mengikuti Sea
Games. Memang tak masuk akal, negara terbesar di Asean dengan jumlah populasi 250 juta ini cuma ada di posisi ke 5.
Tapi menjadi masuk akal kalau kita melihat bagaimana olahraga negri
ini dikelola. Tak kandhani yo, target kontingen Indonesia melalui Satlak Primanya (Satuan pelaksana dibawah KONI/KOI)
kalau anda tau cuma 45 emas, tapi tak dinyana di akhir gelaran kita surplus dua emas. Jadi
dari sisi target sebenarnya kita berhasil meskipun Cak Imam Nahrowi Menpora
kesayangan kita secara serampangan menargetkan harus mendapat 72 emas,
entah rujukan datanya diambil dari mana. Secara target terpenuhi-“keberhasilan”
lain dari kontingen kita adalah soal dana pengelolaan olahraga. Soal uang
ini saya tidak tega untuk membicarakan, yup olahraga kita cuma dapat jatah 230 M
untuk mengikuti Sea Games kali ini yang mencakup masa persiapan sampai gelaran. 230 M itu bukan untuk satu federasi ya tapi
untuk semua induk olahraga. Mengetahui ini pertama kali, saya geleng-geleng
kepala, olahraga kita cuma dapat segitu, jadi menjadi masuk akal kita berada
diperingkat 5. 230 M itu cuma 0,00000019 % dari total APBN kita, men tak sampai
1%. Apa yang kita harap dari uang yang “sedompet” itu. Jadi jangan pernah
berharap kita berkuasa di Asean lagi kalau dananya masih secuil. Kalau ada yang
tau dana olahraga Malaysia untuk ikut Sea Games kali ini, tembus 2,5 triliun
dengan jumlah emas yang selisihnya cuma 15 keping dengan kita. Bayangkan hebatnya
kontingen kita, Malaysia saja yang anggarannya jauuuuhhh diatas kita cuma dapat
67 emas. Jadi jangan Tanya Vietnam, Singapore, apalagi Thailand berapa anggaran
olahraga mereka.
Saya jujur harus angkat topi
sambil standing ovation kepada atlit-atlit kita yang bertarung di Sea Games
lalu. Dengan persiapan ala atlit kelas kecamatan dan keterbatasan dana, mereka masih mampu
mempersembahkan prestasi buat kita. Jadi
buat yang memaki dan kecewa taulah klean sekarang bagaimana olahraga kita
dikelola. Jadi mahfum dan maklum saja. Bukan tanpa alasan memang kenapa
dana olahraga kita cuma segitu. Pemerintah kita pasca Suharto memang tak
memasukkan olahraga dalam prioritasnya. Negara yang nyaris collapse ini masih
berkutat supaya bagaimana kita, kamu dan kalian bisa sekolah dan punya jalan
mulus, soal olahraga nanti dulu tapi akan kesana kok. Optimis saya.
Jadi konteks 7 triliun dana
aspirasi tadi kenapa saya tarik ke olahraga gara-gara pernyataan ketua DPR pas
Sea Games lalu. Dia mengatakan malas nonton Sea games karena kita kalah melulu.
Melihat statemen itu saya terkekeh geli ketika dalam waktu hampir bersamaan dana aspirasi Dewan juga keluar
wacananya. Mestinya bapak ketua DPR yang terhormat jangan ngomong seperti itu. Tahu olahraga
kita tak berprestasi karena dana cuma seonggok itu, mestinya bapak bereaksi
dengan mewacanakan menaikkan anggaran olahraga kita, tak usah banyak cukup 1%
saja dari APBN hakkul yaqin saya kita kembali menjadi raja di ASEAN. Tapi ini
malah memperjuangkan dana besar untuk hal yang di ada-adakan sekaligus
mengada-ngada,fiuhh. Membayangkan dana aspirasi itu diberikan ke olahraga, bersaing dengan China kita.
*Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelweis Universitas Hasanuddin




