Meng-Aku sebagai Generasi Terhebat

Ada banyak cara untuk bernostalgia dengan memori masa lalu, tergantung untuk memadu ingatan masa apa. Banyak kawula muda 90an yang merasa masa keemasan dari peradaban manusia adalah seakan masanya, menganggap masanya sebagai renaisance babak ke dua. Tahun 1990-2000 dimana memang sangat banyak romansa di dalamnya, entah itu dari Nirvana, Dragon Ball Z hingga Reformasi 98. Namun tidak usah saya deskripsikan bagaimana heroisme 90-an itu bisa terbentuk karena aneh juga rasanya jika kita terus-terusan memaksa romantisme jaman itu sehingga seakan masa kita lebih baik dari pada masa muda Gadjah Mada, Soekarno, Pinkan Mambo hingga Bastian Cowboy Junior. 
Era 90an adalah era transisi dimana dinamisme ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial hingga politik sangat kontras berevolusi. Dulu saya jatuh cinta dengan Sherina Munaf waktu pertama liat doi di film Petualangan Sherina karena lesung pipinya, tapi kini lebih kepincut lagi dengan Nikita Mirzani karena anunya. Dulu saya senang makan kacang dalam biji ketapang yang namanya kacang abadi, makan satu biji katanya bisa tahan tidak makan satu bulan, tapi sekarang lebih suka makan kacang Garuda walau biji ketapang masih bertebaran di halaman kampus. Intinya, kita sudah ditaraf beda penyajian dan kebutuhan. 
Katanya, tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan. Saya sepakat itu, tapi tidak mungkin juga terjebak dalam romantisme cerita 'saya dulu... saya dulu...'. Rata-rata orang akan menceritakan salah satu momen masa 90-an nya dengan mukadimah "tidak ada yang lebih hebat dari cerita saya ketika dulu mencuri mangga tetangga..." atau "konyolnya saya waktu berak dicelana di sekolah.." atau "tidak ada yang mengalahkan kerennya dulu belah tengah ala Nick Carter sambil memakai sepatu yang alasnya menyala..". Selalu dengan heroisme seakan dirinya yang PALING dalam tema nostalgia tertentu. Generasi 90-an telah membentuk golongannya sendiri dengan pola identifikasi yg sama; media hiburan yang manual, konsumen budaya pop, dan latah akan trend. Generasi yang seakan interaktif karena belum mengenal gadget analog dan virtual kini justru terjebak dengan modernisme. Itu yang saya maksud latah akan trend. Masa kita masa yang nakal, banal dan keren pastinya. Tapi untuk dibanding-bandingkan dengan masa saat ini, bukan refleksi yang tepat.
Membandingkan selera Jin Dan Jun dengan Ganteng-Ganteng Serigala saat ini, yahh itu bisa kita mulai dengan dari mana asal generasi produktif masa kini. Atau pelaku pasar dari konsumen aktif sampai mediatornya. Kan anak 90-an paling bahagia,paling hebat,paling gegap gempita hahaha. So guys, nostalgia kita selalu seru dengan apa yang ada bersama kita di tahun-tahun itu, tapi jangan sampai lahir persepsi bahwa generasi kita baik, dan generasi saat ini buruk. Tapi..apa ee..



Rahmat Ansari a.k.a MadEvil Cobain

*Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas



This entry was posted in

Leave a Reply

    Pengikut

    Redaksi

    Anda dapat berkontribusi dimedia ini. Kontribusi dapat berupa opini, reportase, prosa, review film, buku, musik dan lain-lain. Segera Hubungi kami ! Email : ukmpaedelweis_fsuh@yahoo.com Facebook : Edelweis sastra unhas Twitter : @edelweis_FSUH Redaksi kami di : Gazebo Edelweis Unhas, sekeretariat UKM P.A EDELWEIS FS-UH, Ruang 001-002 Lt. Dasar, Fakutas Sastra, Universitas Hasanuddin, Km 10 Tamalanrea. Kode Pos: 90245 Makassar – Indonesia