Ada harapan ketika Cak Imam Nahrowi selaku Menpora mengambil langkah tegas dengan membekukan PSSI April lalu. sebagaian kita yang sudah merasa muak dengan kepengurusan PSSI tentu saja bersorak kegirangan akan tindakan ini. sedari awal saya mendukung keputusan itu karena PSSI memang harus dironrong oleh kekuatan dari luar yang lebih besar, apalagi kalau bukan negara. PSSI selama ini bagai tak tersentuh, layaknya Medusa siapapun yang menyentuhnya akan mental dan kemudian menjadi batu.
Namun dari segala dukungan yang besar untuk pemerintah yang diwakili oleh Menpora itu nyatanya cuma bagus di niat saja tapi implementasi-caranya sama ngeheknya dengan kepengurusan PSSI yang lalu-lalu. semua orang pasti punya niat baik untuk sepakbola kita, pun anggota PSSI tapi pertanyaanya mampu apa tidak. kalau melihat dari awal pembekuan sampai sekarang saya sudah berani simpulkan Menpora tidak mampu bahkan tak tau apa-apa. tak tau apa akar masalah sebenarnya.
Kalau mengikuti langkah-langkah Menpora dari awal pembekuan hingga sekarang saya belum tau arah sepakbola kita mau kemana. Banned FIFA telah jatuh sebagai efek namun cak Imam malah membuat dagelan dengan membentuk tim Transisi sebagai pengganti PSSI dengan orang-orang yang Subhanallah nginjak lapangan bola saja mungkin tak pernah. Bibit Samad Rianto mantan komisioner KPK sebagai ketua, ada Tomi Kurniawan,artis yang gagal nyaleg dari PKB, ada Zuhairi Misrawi politisi PDIP yang selama ini lebih banyak bicara Islam Liberal sebagai jualannya. dari komposisi orang-orangnya saja kita bisa melihat ini bagai dagelan namun tak lucu.
Tapi sampai pembentukan tim transisi ini saya masih optimis sampai datanglah dua turnamen Piala Kemerdekaan dan Piala Presiden. saya mulai skeptis, bukan turnamen akar masalah sepakbola kita. untuk apa menghentikan liga di tengah jalan toh pada akhirnya cita-cita pembekuan itu ternyata cuma menghasilkan turnamen yang tak jelas juntrungannya. katanya untuk mengisi kekosongan lah kenapa dibiarkan kosong, segera cepat bertindak bikan liga. karena liga itu obatnya. gulirkan semua kompetisi di semua level dari anak-anak-remaja sampai level liga Super. bukan membuat turnamen sebulan dua bulan setelah itu bego karena bingung setelahnya apa lagi.
Kalau tidak mampu menyerah kalah saja. lepaskan pembekuan dan biarkan PSSI melanjutkan "cita-cita mulianya" membangun sepakbola kita. Pemerintah dorong saja lewat regulasi dan sistem. Biarkan swasta yang bermain. Ketidak mampuan itu jelas kok,tim Transisi yang Menpora bikin dengan percaya diri menggelar Piala Kemerdekaan. turnamen kelas dua dibawah piala Presiden ini menghasilkan PSMS Medan sebagai juaranya. banyak masalah dalam turnamen itu mulai dari soalan Wasit, kericuhan di dalam lapangan, sampai match fee yang tak kunjung cair ke setiap klub padahal sudah dijanjikan. "kelucuan" menemui puncaknya ketika gelaran turnamen selesai. PSMS Medan berang karena hadiah sebagai pemenang tak kunjung cair sampai minggu lalu, terhitung sudah hampir sebulan setelah turnamen itu selesai. Parahnya tim transisi memang tak punya dana untuk itu. dan akhirnya pada Jumat kemarin hadiah yang dijanjikan katanya sudah cair. Tau dari mana hadiah uang itu diambil?yup dari APBN sudara-sudara. Di liga atau turnamen mana yang hadiahnya dianggarkan oleh APBN, tak mungkin sebuah rancangan APBN mem-poskan dana untuk sebuah hadiah turnamen sepakbola. Mudah-mudahan tidak ada yang tersangkut KPK setelah ini :). Menpora dan Tim Transisi selalu ngemeng persoalan tata kelola sepak bola yang baik ternyata sama saja kelakuannya dengan organisasi yang telah dibekukannya.
Kompleksitas sepak bola memang luar biasa, makanya Menpora keteteran untuk soalan ini. belum lagi mengurusi olah raga lain yang butuh banyak perhatian dibanding sepakbola apalagi kita akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 nanti,makin ruwetlah sepak bola ini. Makin lama masalah ini diulur tanpa kejelasan makin lama kita terjerembab. Rangking kita di FIFA sudah setara Bhutan dan negara antah berantah lainnya. potensi besar yang kita miliki sayang untuk hanya jadi ajang tengkar. mencoba bijak,saya sarankan pak Imam ngopi-ngopi cantik dengan La Nyalla dan dedengkotnya. Buatkan target,suruh paparkan road map sepak bola untuk 50 tahun kedepan setelah itu kasih jalan, bapak tinggal mendukung lewat regulasi dan sistem. bikin perjanjian diatas kertas beri tenggat waktu kalau tidak ada perkembangan yang signifikan La Nyalla harus legowo mundur dan mengakui juga tak mampu. jangan seperti sekarang yang mencla-mencle yang katanya mau buat turnamen lagi setelah Piala Presiden selesai,lah. ya kalau begitu terus mana Tata Kelola Sepakbola yang baik yang selama ini bapak dengung-dengungkan, mana niat baik itu, mana harapan yang selama ini bapak coba hadirkan. kalau cuma begitu sih ini bukan tata kelola yang baik namanya tapi tata kelola yang Abal-abal Cak!
Darmawansyah Gunawan
*Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas





