Pak Joko di Kompas pagi ini bilang "Kepala kantor saja perlu adaptasi apalagi seorang presiden".Dari pernyataan itu menjadi tidak mengherankan akhir-akhir ini banyak kebijakan lucu-lucuan yang keluar,lah wong Presidennya masih adaptasi ternyata. Yang terbaru dan paling grees tentu saja tentang bela-belaan negara. entah apa yang melatar belakangi hak sekaligus kewajiban kita sebagai warga negara di pasal 27 ini didengungkan oleh pemerintah. apakah negara sekarang dalam keadaan genting?.apakah gentingnya negara karena maraknya tulisan-tulisan seperti ini, menggilanya sosial media yang tiap hari menyudutkan Pak Joko dan konco-konconya?,apakah dengan bela negara dipersepsikan sama dengan melindungi pemerintah sekarang dari Gangguan,Ancam,Tantangan dan hambatan cupu seperti itu? kalau memang betul, revolusi mental jauuuuh pak!
Gejala Indonesia menuju kehijau-hijauan (baca Militer) memang terasa sebelum ada bela-bela negara itu.Mulai turunnya Babinsa"mendampingi" petani, mengaktifkan kembali Koramil-Koramil di setiap kecamatan sampai berita tadi pagi di Jakarta Post bahwa program ala-ala ABRI masuk desa akan hidup kembali. Entah Pak Joko terantuk di tembok mana hingga program-program seperti ini menjadi sebuah keharusan. saya tau pak, Mentri pertahanan bapak seorang Jendral galak macam Ryamizard Ryacudu tapi tak usah selebay inilah sampai ikutan "galak" juga. sebagai pemimpin yang dilahirkan oleh era Reformasi mestinya bapak sadar,era itu ada untuk menghilangkan segala jenis yang berbau sepatu laras dalam kehidupan dan keseharian kita. trauma Orde Baru yang menggunakan meliter dalam kebijakan politiknya apa tidak dianggap pak?
Tapi ya sudahlah ya, pak Joko masih adaptasi masih meraba-raba mudah-mudahan lagi khilaf saja. saya mencoba menghidmati frasa bela negara itu sendiri. apa arti membela negara disini? membela negara dari siapa?. dari asing? sedangkan proyek dari luar mengalir deras setahun ini. membela negara dari orang macam Salim kancil? membela negara Jakarta Siaga 1 karena sepakbola namun Sumatra-Kalimantan cuma siaga masker? membela negara dari anak-anak SMA di Paniai Papua yang ditembak mati oleh Tentara? membela negara ketika kita gemar membakar rumah ibadah atas nama Tuhan?. bela negara itu bagaimana sihhh...
Kalau bela negara macam itu,saya emoh untuk ikut pak. saya masih lapar, saya masih Jomblo pak mau nikah dulu. nanti setelah saya menikah mudah-mudahan negara kita sudah Jujur,adil, dan makmur dengan sukarela saya untuk ikut membela negara yang kita cintai ini. jangan sekarang pak,karena masih banyak orang yang stres main tembak-tembak warga sipil. Pembunuh Munir masih berkeliaran pak, Wiji Tukul pun belum jelas di mana pak.
Kamu tu Wan sudah Jomblo banyak ngedumel lagi. eits jangan salah Jomblo bersatu tak bisa dikalahkan. Memangnya buruh saja yang bisa begitu. Eh ngomong-ngomong soal buruh mereka ini jago loh baris-berbaris Pak. jadi kalau ada pelatihan bela negara rekrut saja mereka dijamin hasilnya hacep. bagaimana tidak hacep coba, mereka cuma digaji pas-pasan, masih dalam kungkungan sitem kerja outsourcing pula tapi mereka tidak lupa loh pak latihan baris-berbaris setiap 1 Mei.jadi nanti kalau bela-belaan ini jadi pas parade nanti Buruh-buruh ini taruh di barisan paling depan ya pak sambil nenteng AK-47. Dijamin parade nya bubar karena Buruhnya pada pingsan kelaparan karena cuma digaji 700 ribu sebulan...heheheu
Terakhir pak tulisan ini cuma lucu-lucuan saja ya jangan diambil hati,takutnya nanti sudah ada pasukan hijau di depan rumah saya.ingatloh pak saya Jomblo masih fakir akan asmara dan kasih sayang. Tolong bela hak saya juga dong tentang ini. saya milih bapak loh waktu pemilu lalu dari pada milih Jendral itu tapi kok bapak mau-maunya sih ngikuti gayanya. emoh aku pak emoh!
Darmawansyah Gunawan
*Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas





