Bukan Tentang RJ Lino

Seandainya saya diperintahkan untuk memilih tempat wisata terbaik dalam kawasan Makassar ‘Kota Dunia’ ini, mungkin pelabuhan akan masuk salah satu nominasinya, setelah kamar tidur dan dapur rumah tentunya. Yahh.. dalam hal ini rasanya kita sepakat saja jika rumah memang selalu menjadi tempat untuk pergi dan kembali dengan jaminan kenyamanan yang sudah tidak tertawar lagi oleh rasa sungkan, dari pada rumah tetangga apalagi rumah calon mertua. Dan kenapa pelabuhan? Karena selalu ada banyak cerita disana, tempat riuh orang-orang yang akan datang dan pergi, atau ibarat seperti portal budaya dimana segala sentiment, urusan politik bahkan gender berakhir.
Beberapa hari ini, saya agak banyak berak-tifitas di pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, daerah komando Pelindo IV untuk urusan sebakul nasi dan setermos kopi. Lanskap zonasi nya secara garis besar terbagi 3 konsentrasi sesuai fungsi. Labuhan untuk Kapal penumpang, Labuhan kegiatan bungkar muat kargo atau CY (container Yard) dan zona pergudangan depot container, selebihnya kantor2 urusan administrasi kepabeanan serta otoritas pelabuhan lainnya. CY memiliki akses terbatas untuk umum sehingga agak membosankan berlama-lama didalamnya dengan aktifitas yang itu-itu saja. Kapal datang, turunkan muatan, naikkan muatan baru dan bengis buruh mengoperasikan alat-alat berat macam Container Crane, forklift, trucking atau yang sedikit menarik, para buruh yang kebingungan mencari posisi container tuannya. Tapi tiap zona memiliki spiritnya masing-masing, dan labuhan Kapal penumpang selalu menarik untuk disinggahi walau tanpa urusan sekalipun.
Terlepas dari urusan transportasi dan ekonomi, pelabuhan selalu sesak oleh manusia dengan irama dialek, warna, busana dan outfit yang berbeda. Suasana yang begitu mirip-mirip dengan suasana musim haji di asrama haji sudiang, Makassar, 1 orang haji/penumpang diiringi 2 truk massa yang bersuka cita mengantar entah karena fanatisme kekeluargaannya atau tujuan lain. Yang pasti, fanatisme kekeluargaan itu terpatri dengan warna interaksi antar sesama manusia tanpa melihat warna kulit, merk hp, tanpa bertanya apa dia seorang syiah atau sunni, presiden pilihannya siapa atau fans klub eropa mana. Antara pedangang nasi kuning dengan logat Makassar tulen melayani calon penumpang yang menunggu kapal dengan rambut gimbal berbaju Bob Marley dan sandal jepit merk Crocodile asal Nabire, atau interaksi antara pria gondrong ceking dengan tattoo di lengan kiri “Aremania singo Edan” yang sedang berbagi tempat teduh dibawah pohon asam dengan seorang pria dengan Gamis hitam dan sorban putih. Belum lagi mesranya mereka bercerita tentang apa saja walau baru berkenalan saat itu juga biarpun tujuannya sekedar mengusir kebosanan dari lelahnya menunggu. Segala hal dilakukan untuk mensiasati ‘ketertiban’ untuk mencapai kenyamanan, okupasi ruang publik atas dasar kebersamaan dan sesekali mengesampingkan estetika tata ruang.
Sesekali saya juga menganggap mungkin interaksi ini memiliki relasi dengan (lagi-lagi) kelas sosial, alih-alih manusia adalah mahluk sosial yang secara naluri selalu butuh orang lain sebagai media hiburan atau sekedar refleksi. Tapi pledoi itu seakan mentah dengan ‘keterpaksaan’ bahwa kelas VIP (kelas 1A) kapal Pelni yang dibanderol 1-3 juta sekali berlayar, juga sering sold-out. Padahal segepok uang begitu sudah bisa untuk naik Lion Air durasi 2-4 jam perjalanan dari, kota ke kota, dari pulang ke datang, atau dari rindu ke pelukan hahhaee.. asumsinya, beberapa orang masih mencintai perjalanan panjang dan merindukan kenangan dengan transportasi Kapal, jika tak ada aral yang memburu dan ketakutan terbunuh oleh gelisah sang waktu awawawawaww..
Saya tidak membayangkan sebelumnya, bagaimana bisa melihat interaksi-interaksi ini tanpa forum dan komando melepaskan kulturnya masing-masing dalam ruang terbatas dengan kearifan lokal tak terbatas. Bahkan tak ada garis komando antara sub-kultur dengan yang dominan, walau manifestasinya dalam interaksi verbal saja. Tak ada colokan listrik, hp yang lowbat dibiarkan mati dan tak ada yang menganggap check-in path itu penting. Disini, jargon ‘Bhineka Tunggal Ika’ itu benar-benar teruji dengan value egaliter nya masing-masing, mungkin karena semua calon penumpang, yang mengantar penumpang, pedagang, petugas pelabuhan hingga copet menyadari posisinya masing-masing sehingga tak ada sesama calon penumpang yang baku pukul karena tidak kebagian kursi tunggu, tak ada copet yang saling mencopet sesama copet, atau tak ada pedagang yang membeli dagangannya sendiri. Sekali lagi karena mereka sadar berada di pelabuhan, tempat yang telah mereka sepakati tanpa konsensus sebagai tempat meredam ego dengan tujuan pokok menunggu kapal datang dan pergi.
Jadi, apa hikmah yang dapat kita petik dari fenomena tersebut? Tidak ada hahahaha.. klo pun ada, mungkin cuma pelajaran tentang egalitarian yang siapa tau bisa dicapai ketika segala kepentingan, dominasi dan fanatisme kelompok disingirkan dahulu jika sedang berbicara keseimbangan dalam tatanan makrososial.

Saat ini, untuk melihat Indonesia dari sudut konvensional sering dilakukan dari lingkungan akademis dan kehidupan urbannya. tapi menurut saya, pelabuhan memiliki warna yang berbeda dengan lensa standar sebagai bidikan. Mungkin fungsinya boleh sama dengan Bandar Udara tapi dengan suasana yang sangat berbeda. Hal yang telah kita maklumi bahwa antara Bandara dan Pelabuhan ada struktur kelas sosial yang terbangun disana, tapi tenang, bukan itu pembahasannya. Terlalu berat klo mau bahas struktur kelas bagi saya haha. Ehh tidak juga bermaksud membandingkan 2 service transportasi udara dan laut ya, urusannya Kemenhub itu. urusan saya disini cuma mau bilang, klo ada waktu luang, naik gununglah. Kalo tidak punya  cukup uang, ke pelabuhan lah. Klo punya uang tapi tak punya  luang, ke depannya pelabuhan saja lahh hahaha..

 Rahmat Ansari a.k.a MadEvil Cobain
*Penulis adalah Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas

This entry was posted in

One Response so far.

  1. Melihat tulisan teman2, sepertinya kemampuan ini sama halnya dengan mendaki gunung. Saya merindukannya tapi semuanya sama2 susah dilakukan kembali entah mengapa?? Perasaan menggebu ingin menulis tapi pas ada waktu sedikit kepala rasanya kosong melompong, begitu jg keinginan mendaki gunung yg hanya sekedar impian. Teruslah menulis kawan2, berharap suatu saat sebuah tulisan sy nongkrong disini

Leave a Reply

    Pengikut

    Redaksi

    Anda dapat berkontribusi dimedia ini. Kontribusi dapat berupa opini, reportase, prosa, review film, buku, musik dan lain-lain. Segera Hubungi kami ! Email : ukmpaedelweis_fsuh@yahoo.com Facebook : Edelweis sastra unhas Twitter : @edelweis_FSUH Redaksi kami di : Gazebo Edelweis Unhas, sekeretariat UKM P.A EDELWEIS FS-UH, Ruang 001-002 Lt. Dasar, Fakutas Sastra, Universitas Hasanuddin, Km 10 Tamalanrea. Kode Pos: 90245 Makassar – Indonesia