Pada awal 2011, di Fakultas Sastra, demam Blackberry (BB) menjangkiti hampir semua
manusia yang hidup di sana. Entah kapan mulainya untuk dunia di luar sana,
karena hidup saya saat itu hanya di sekitaran Fakultas Sastra. Semua orang
kemudian membedakan penyebutan ponsel mereka,waktu itu pula penggunaan dua
ponsel menjadi lazim—mana yang ‘hp’ mana yang ‘BB’. Awalnya gejalanya tidak begitu nampak, bahkan bila tidak
diamati, demam itu tidak buruk bagi penderitanya. Seiring berjalannya hari dan
makin lincahnya jari menjamah benda yang dilabeli smartphone itu, masalah pun muncul. Kita lalu jarang mendengar
obrolan lansung para penghuni Sastra di setiap sudut tongkrongan—yang
sebelumnya selalu bersuara dalam cerita ataupun diskusi—kala mereka telah
disibukkan dengan aplikasi Blackberry
Messenger (BBM), Twitter, ataupun Facebook yang ada di genggaman mereka. Mereka semua sibuk tunduk
walau tak hening cipta, asik tertawa tanpa hadirnya komika, juga dengan sigap
membalas pesan-pesan yang masuk. Demam itu terus menyebar dan mereka yang
terjangkit inilah yang kemudian disebut sebagai cikal bakal lahirnya generasi
‘autis’ di Fakultas Sastra. Hampir mati interaksi
langsung kala itu, walaupun riuh cerita kadang masih terdengar dari mereka yang
tidak dijangkiti demam yang jumlahnya pun tidak banyak, tapi ada.
Belum juga ditemukan penawar demam BB, masyarakat
kampus kemudian ditambahkan permasalahan baru. Derasnya informasi yang
ada lewat internet bermodalkan smartphone
membuat tren istilah-istilah modern dengan mudah akrab dituturkan oleh
masyarakat. Untuk tren istilah, saya mengambil satu untuk dibahas, kata ‘kepo’ yang merupakan singkatan
dari ‘Know Every Particular
Object’ dan pada penerapannya lebih digunakan untuk menggantikan
kalimat ‘mau tau aja’. Istilah ini saya pilih berdasarkan perbincangan dengan
teman kala itu, tentang ‘kepo’ dan dampaknya. Untuk beberapa orang istilah
tersebut bukanlah masalah, bahkan bila ada yang mempermasalahkan hanya untuk
orang yang kurang kerjaan. Dampaknya secara tidak disadari membuat orang
semakin tertutup satu sama lain; yang awalnya berbagai hal menjadi bahan cerita
kadang mengarah ke curhatan, makin hari makin muncul pembatasan bahan, cukup
mengandaskannya dengan kalimat ‘keponya ine!’ Makin akrab dengan istilah
tersebut, masing-masing kami dan orang sekitar saat itu seakan takut
mendapatkan julukan ‘si kepo’. Kita tidak usah kepo dengan kalian, kalian juga
jangan kepo, kita dan kalian pun tidak akan kepo dengan kami.
Ganas
dan ironisnya permasalahan-permasalahan itu di Fakultas Sastra akhirnya
dilengkapi dengan wabah android yang seingat saya mulai muncul di awal tahun
2013. Berbeda dengan BB, OS Android yang tersebar di hampir semua ponsel
masyarakat sekitar lebih sanggup dan tangguh menjalankan beberapa aplikasi
anyar saat itu. Mereka yang ber-blackberry
kemudian berganti demi Path, Instagram, serta Angry Bird. Dan waktu pun
semakin banyak habis bersama hp di genggaman, memotret kemudian mengunggah,
mengutarakan semua hal lewat media sosial yang jumlahnya kemudian lebih banyak
dari jumlah mata kuliah mahasiswa semester 8. Inventaris Himpunan dan UKM pun
bertambah dengan kebutuhan anggotanya akan colokan listrik. Mereka yang nongkrong
di kolong (salah satu tempat di Fak Sastra) pun tak lagi habiskan waktu pagi sampai sore di sana, karena tak siap
bersedih dengan ‘kematian’ Smartphone-nya. Berbagai pembahasan berganti sejalan dengan
apa yang ramai di media sosial, duckface,
dubsmash, #don’tjudgechallenge, dan berbagai tren-tren temporari lainnya.
Ada yang pro banyak yang kontra, ada yang kontra ada lagi yang kontra. Gejala
yang sama dengan demam Blackberry
tapi android menyempurnakan ke’autis’an generasi yang dirintis oleh BB.
Interaksi
semakin hari semakin kurang seiring akrabnya kita dengan ponsel di genggaman,
entah itu berbasis blackberry ataupun
android. Permasalahan ini—untuk saya—sama seperti hutang Indonesia yang semakin
lama semakin banyak tapi tidak ada yang bisa diperbuat. Akhirnya cerita ini
hanya jadi renungan, dengan harapan ada juga perenung lain di Sastra atau dunia
luar yang mau coba hidupkan lagi interaksi, saya akan mau untuk siap.
Rijal Muammar H
*Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas
Rijal Muammar H
*Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas





