Sejujurnya saya tidak
ngefan-ngefan amat dengan Dian sastro, saya menulis ini karena ikut hype nya orang-orang saja supaya terlihat keren. Gara-gara “Ada Apa dengan Cinta” dibuat
sekuelnya sosok ini kembali kepermukaan. Memang tidak ada alasan untuk tidak
memuja perempuan yang satu ini. Wajah yang sangat melayu malah cenderung njawani memang pas sebagai representasi
kesempurnaan perempuan Indonesia. Ayah nya seorang Budha ibunya seorang Katolik
dan dia sendiri seorang Muslim, di sini Dian tanpa sengaja mengajarkan kita
falsafah Negara yang kita junjung “Bhineka Tunggal Ika” dalam arti yang
sebenarnya. Kecantikan yang maha eksotis tanpa balutan sulaman entah bibir
ataupun alis di wajahnya bisa membuat kita terhenyak jika melihatnya. Tak ada
yang kurang dari dirinya, mungkin satu-satunya seniman di Indonesia yang jauh
dari istilah ke-katrok-an cuma dia.
Biarpun nantinya dia melakukan blunder dengan menjadi host Dahsyat haqul yaqin
dia tetap elegan tanpa embel-embel alay
di belakangnya. Kecantikannya timeless,
sampai-sampai saya ingin sekali bertanya ke Indra guna Sutowo cemmana rasanya punya istri seorang
putri Khayangan. Entah penggambaran apalagi yang pas untuk bertutur tentang
wanita ini sampai-sampai sekumpulan mas-mas membuat harapan aneh sebelum dia
meninggal bisa mencium aroma keringat Dian sastro sehabis berolahraga. Konyol?
Aneh? Tentu tidak karena ini Dian sastro.
Semuanya terlihat wajar tidak ada
yang lebay jika berbicara tentang sosok ini, kegilaan kita terhadapnya mungkin
bisa makin menjadi-jadi jikalau gurauan Ahok dulu bahwa dia akan memilih Dian
sebagai wakilnya kesampaian sebelum ada pak Djarot yang mengisinya. Bagaimana
tidak, sekarang ini dua hal yang membuat Indon gila selain Dian sastro adalah Jakarta, membayangkan keduanya bertampik sorak secara bersamaan,Rumah sakit
jiwa penuh sesak.
Sedikit basi memang membicarakan
Indonesia yang terlalu Jakarta sentris, mau tak mau setiap hari kita melahap
berita tentang Jakarta karena posisinya sebagai ibu kota Negara, tempat di mana
sumber segala berita meruah di sana. Jakarta seakan menjadi patron bagaimana
dan mengapa Negara ini berjalan. Di Jakarta becak masuk got saja menjadi berita tapi
di Papua 31 anak meninggal secara misterius berakhir tidak lebih dari sekedar statistik.
Di Jakarta terjadi pelecehan seksual di sebuah sekolah International tiba-tiba
seluruh negri darurat pelecehan seksual anak. Gara-gara Jakarta
bermasalah dengan transportasi semua orang panik seakan-akan di Sulawesi sudah
ada MRT (Mass Rapid Transport). Jakarta dan manusianya memang super caper dan
pengeluh nomor satu uniknya dengan segala kelebihan dan kemakmuran yang mereka
punya pemerintah tetap membuat Jakarta sebagai prioritas, berbeda kalau keluhan
itu datangnya dari daerah, memble. Opini Jakarta adalah kita, Opini Jakarta
adalah Opini Indonesia. Negara terlihat baik-baik saja sepanjang Jakarta tidak “sakit”,
tidak heran jika masih banyak orang Aceh maupun Papua menyebut pemerintah Indonesia dengan sebutan Jakarta :).
Kegilaan tentang Jakarta
tampaknya makin menghegomoni setahun kedepan karena hajatan yang tidak
penting-pemilihan kepala daerah. Yup tidak penting untuk kita yang berada di
luar Jakarta tapi kita seakan ikutan bego masuk perangkap Jakarta. Setiap hari
televisi membicarakan calon pemimpin Jakarta seakan itu penting buat kita. Kita
setiap hari berdebat tentang Ahok, postingan menye-menye tentang Ahok dan
jakartanya. Segala macam motivasional poster bermunculan yang kadang tak
menyertakan akal sehat.
Gara-gara Ahok dengan Jakarta-nya
tiba-tiba sebagian dari kita mendukung penggusuran si miskin, karena Ahok dan
Jakarta-nya semua orang mahfum dengan kata-kata kasar. “Tai” dan ‘Anjing”
berseliweran di frekuensi publik tapi orang-orang seakan terhipnotis bahwa itu
justru kata-kata mutiara. Orang-orang tiba-tiba menjadi munafik, beberapa kelas
menengah ngehek di Jakarta ikut mengkampanyekan tolak reklamasi Bali tapi di
kotanya sendiri terjadi reklamasi besar-besaran tapi malah diam, mingkem bagai
anjing kedinginan. Semua orang tiba-tiba peduli lingkungan tapi karena
junjungannya yang melakukan, isu lingkungan di pinggirkan dulu, fuck me!. Katanya kemenangan demokrasi karena maju lewat jalur Independen seakan dia yang memulainya, apa kabar dengan Faisal Basri lalu?.
Yang saya kasihan tentang Jakarta
adalah teman-teman saya yang setiap hari membicarakan Ahok dan segala tetekbengeknya.
Mereka terlalu melahap televisi, taklid buta, membebek plus memakai kacamata
kuda dan yang paling konyol mereka bukan
warga DKI tentunya, LOL. saya suka gregetan
melihat postingan beberapa teman tentang Ahok dan Jakarta-nya, yang paling membuat
saya terhenyak adalah postingan salah satu teman dengan mengatakan “orang-orang yang memilih Ahok katanya adalah
orang-orang Rasional dan open minded”, jadi dengan logika ini jika orang-orang
yang tidak memilih Ahok adalah orang-orang dungu yang irasional,ampun mbah
ampun!. Tidak tahu saya ukuran apa yang dipakai untuk menilai kita rasional apa
tidak, open minded atau tidak.
Sudah ah terlalu banyak saya
berbicara nanti Jakarta tambah ge er lagi, saya mau jemput Dian Sastro dulu…BHAY!!!
*Darmawansyah Gunawan
Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Fak sastra Unhas




