Kenapa Edelweis harus menulis? jawabannya tidak harus dan tak perlu menjadi harus. Tetap untuk urusan pertanyaan keharusan, ya kita masih berbicara di seputar mendaki gunung, menyusuri dalamnya Gua, dan memanjat tingginya tebing. Karena alasan itulah Edelweis ada, menulis berada di level yang berbeda. Pertanyaan saudara Uchi Ishak atau mungkin pertanyaan semua teman-teman yang lain bahwa "kenapa Edelweis harus Menulis?" membuat saya sedikit rikuh karena jujur sebenarnya tak ada jawaban yang tersedia untuk itu. Kalau pun ada jawaban yang bisa menjawab itu maka saya harus mengambil dari luar dari apa yang selama ini terbangun di Edelweis.
Jika saya meng-analogikan Edelweis sama seperti manusia maka mendaki gunung, menuyusuri gua, dan memanjati tebing sama dengan bernapas, berjalan, dan tidur. Pola alamiah yang dilakukan manusia tanpa perlu usaha lebih untuk melakukan karena memang telah menjadi sebuah fitrah. Terus ketika manusia (Edelweis) melakukan itu semua,apa yang spesial dari itu?sepertinya tidak ada. Manusia (Edelweis) harus melakukan sesuatu yang lain dari apa yang biasa dia lakukan, ke hal yang mungkin tak pernah dilakukan dan tak pernah orang-orang coba lakukan. Saya memilih menulis sebagai jawaban jika kita menginginkan hal yang lain dan membuat kita terlihat spesial.
Bukan tanpa dasar jika kita memilih menulis sebagai hal spesial yang kita punya. Pertama kita ada di Fakultas yang meng-agungkan literasi. Yang kedua, hal ini yang selalu ada dipikiran saya,tidak mungkin senior-senior kita lalu membuat jargon "Bertualang & Meneliti" hanya untuk keren-kerenan pastilah ada maksud besar dari situ,yang sayangnya mungkin saya dan kita gagal menangkap itu. Mencoba menghidamati frasa "Bertualang & Meneliti",saya jadikanlah menulis sebagai hal yang fundamental di sini.
Kalau belum puas jawaban saya, di atas pertanyaan "kenapa Edelweis harus menulis??"mungkin nanti saya bisa menambahkan,tapi izinkan sejenak saya untuk sedikit bercerita tentang blog kita ini. kenapa saya membuat blog ini beserta teman-teman yang lain padahal kita sudah punya blog yang sudah eksis sebelumnya. Saya cuma menginginkan adanya differensiasi/pembedaan dengan blog-blog terdahulu. Kenapa blog ini terkesan temanya bebas yang tak Edelweis banget kata orang-orang, karena persoalan differensiasi tadi. Saya tak mau merecoki blog kita terdahulu, biarlah blog-blog terdahulu menggambarkan Edelweis sebagai Edelweis. Blog ini saya tarik ke arah yang berbeda untuk memberi porsi lebih kepada para Edelweiser-nya (orangnya). Saya ingin menunjukkan sisi manusianya kita. Bahwa para Edelweiser juga punya concern lain di luar Gunung,Gua, dan Tebing. Bahwa para Edelweiser ternyata punya dunia yang lain di luar apa yang saya bilang sebelumnya. Tidak mungkin para Edelweiser cuma punya interest ke hal-hal berbau kepetualngan,kita hidup di dunia yang sangat dinamis yang sedikit banyak mempengaruhi pikiran dan prilaku kita. Maka dari itu blog ini hadir agar bisa mewadahi keresahan-keresahan yang lain dari para Edelweiser.
Kenapa baru sekarang kenapa tidak dari dulu? karena sekaranglah waktu yang tepat menurut saya. Kenapa saya bilang begitu, karena setahun-dua tahun belakangan Sosial Media menuju Peak-nya. Nggilani kata orang Jogja. Mungkin sebagian teman ada membaca tulisan ini lewat smartphone yang sekarang rata-rata berlayar lebar, yang dulu mungkin jika kita mau membaca berita/artikel online harus ke warnet dulu atau di depan laptop yang terhubung Wi-Fi tapi sekarang tidak lagi,tinggal kita klik link-nya di smartphone dan Iqra. Kenapa revolusi tekhnologi ini kita tidak manfaatkan sebaik-baiknya, memperkenalkan kita sebagai Edelweis lewat buah pikir yang kita salurkan lewat tulisan. Tak ada persoalan sekat ruang dan waktu. Jangkauan yang tanpa batas. Jadi saya merasa sedikit aneh jika teman-teman sekarang berencana membuat Bulettin cetak. Tanpa mau menghalangi niat baik teman-teman namun ada sejentik hipokrisi yang saya tangkap di dalamnya.
Persoalan Hipokrisi a.k.a munafik kalau kita mau kasar menyebutnya sepertinya ada di kita. Blog ini kita buat bisa jadi sebagai otokritik terhadap saya,kita dan organisasi secara keseluruhan. saya teringat ketika saya mengikuti sesi interview PPAB yang kemarin,saya menangkap kita serentak menyebut ke-khasan yang kita punya dibanding Mapala-Mapala yang lain itu adalah menulis tapi jujur saja, lidah di saat menyebut bahwa menulis adalah salah satu core-nya kita, terasa kelu dan kecut,karena apa ya itu tadi kita munafik. Apa yang menunjukkan bahwa itu memang ke-khasan kita, laporan perjalanan? semua Mapala juga punya keuleus . Terus apa? praktis tidak ada. Kita mau bilang lihat saja di blog, tapi terakhir tulisan yang update mungkin tulisan 2-3 tahun yang lalu. So lewat "kejadian" itu saya mulai berpikir ada hal besar yang harus kita lakukan untuk tak selalu bersembunyi di balik kepura-puraan. Untuk melakukan hal yang besar katanya harus dimulai dari langkah yang kecil. Lewat blog ini lah saya berkomitmen untuk itu. Lewat blog ini kita coba pertanggung jawabakan bahwa memang Edelweis seperti itu. Memang tak ada yang baru, apa yang istimewa toh blog lagi blog lagi. supaya tidak jatuh kelubang yang sama lagi, maka saya berkomitmen setidaknya ada dua tulisan yang naik setiap bulannya, minta maaf kalo notifikasi Facebook teman-teman saya ganggu lewat postingan-postingan yang sebagian besar tulisan-tulisan saya.
Jadi dari penjelasan saya di atas mudah-mudahan tidak ada yang menganggap saya cari panggung sendiri:). Berhubungan dengan Buletin cetak tadi dengan Hipokrisi yang saya tangkap, yup saya merasa ada lompatan logika yang kita bentuk tanpa kita sadari. Blog ini sebenarnya juga berfungsi sebagai triger sebagai pelatuk untuk menuju kesana,tapi selama blog ini hadir sampai sekarang jarang ada yang "memakan"nya. Jadi bagaimana ceritanya kita mau membuat Bulettin yang kontennya lumayan banyak tapi tulisan 4-5 paragraph dari teman-teman tak pernah nongol di sini. Sekali lagi tanpa ada niatan saya menghalangi niat baik teman-teman, kita gagal memahami masalah. Masalahnya bukan Buletin kita yang tidak atau belum ada tapi budaya literasinya kita mati atau halusnya,budayanya belum tumbuh.
Maaf kalau dari tadi saya cerewet. Maaf juga kalau tulisan ini lompat-lompat, tidak terstruktur maklum amatiran coy:). Masih berbicara tentang blog ini. Mungkin ada yang merasa blog ini terasa terlalu hipster,apa apa yang sedang Hype, blog ini seketika bersuara. Bukan tanpa alasan kenapa seperti itu, karena lewat cara itulah saya merasa kita bisa ikut menjadi bagian dari sebuah zaman. Bahwa blog ini menjadi penanda bahwa Edelweis pernah ada di era tertentu. Bahwa Edelweis ada ketika pertama kali peraturan Mahasiswa Gondrong dilarang masuk Perpustakaan di Unhas terbit, bahwa Edelweis ada ketika peristiwa Tolikara terjadi di Papua, bahwa Edelweis hadir ketika dunia sepak bola kita sedang sakit, bahwa Edelweis ada ketika era menyinyiri Jokowi adalah makanan sehari-hari bangsa ini. Sampai yang paling Absurd Edelweis hadir ketika Rossi dan Marques gontok-gontokan gara-gara motor. Logikanya sesederhana itu selain persoalan menarik traffic/intensitas klik tentunya :). Alasan ini juga saya pakai kenapa blog ini menjadi media Hipster agar tingkatan update-tan nya tinggi. Karena jika kita kembali mengkhususkan bahwa blog Mapala harus yang Macho-Macho dan tangguh, takutnya nasibnya seperti pendahulu-pendahulunya. Bukan apa-apa jika cerita naik gunung kita lagi yang tayang maka mungkin update tulisan bisa-bisa 3 bulan sekali atau mungkin setahun sekali, menunggu kita naik gunung atau kita Ekspedisi dulu. Itulah kenapa blog kita sebelumnya tak terurus sampai kita lupa password dan e-mailnya :). Ngomong-ngomong soalan update meng update tulisan, kenapa setidaknya dua tulisan yang harus naik sebulannya, yang mungkin normalnya sekali seminggu, karena bertujuan untuk membentuk pembaca. Sedikit demi sedikit blog kita ini sudah punya pembaca setia loh. Karena saya tidak mau mengecewakan pembaca setia blog kita ini maka saya harus "galak" dalam soal meng-update tulisan. Biarpun tak banyak tapi saya merasa harus menghargai mereka. Kenapa blog-blog kita terdahulu gagal membentuk pembaca karena tadi itu updatenya sekali setahun jadi ya otomatis pasti akan ditinggalkan.
Eh ada yang kelupaan, masalah Bulettin cetak yang tadi. Dengar-dengar setiap terbit akan ada 100 sampai 200 eksemplar. Butuh uang banyak kalo dipikir-pikir, itupun kalau kita pikir. Uangnya dari mana? urunan? kayak kita tak mengenal diri kita sendiri saja :). Begini, ada ruang yang tak perlu memerlukan uang untuk menunjukkan eksistensi kita, gratis, jangkauannya luas, kenapa tak perkuat ini dulu saja. Kenapa cuma menyasar 100-200 orang yang kemungkinan membacanya dan kemudian beralih menjadi sampah ketika ada ruang yang jangkauannya lebih besar dari pada itu. Ini cuma tinggal klik and than go viral. Sekali lagi saya menegaskan, tak bermaksud menghalangi niat baik teman-teman.
loh kok bisa panjang dan seserius ini...hahahai. Mungkin dari cerita ngalor ngidul saya diatas bisa sedikit menjawab "kenapa Edelweis harus menulis?". Masih banyak yang kita bisa diskusikan sebenarnya. Saya tunggu komen teman-teman di kolom komentar. Saya bisa saja salah atau bisa saja benar untuk soalan kecil ini. Oh iya satu lagi, kenapa blog ini ada datang dengan current issue nya, karena jujur ruang diskusi di Mabes kelihatannya agak mulai tertutup. Karena keberadaan teman-teman mungkin sekarang-sekarang ini lebih banyak di media online,saya mencoba ruang diskusi itu saya pindahkan kesini, tapi mungkin tak ada yang menangkap itu. Banyak tulisan yang sengaja saya bikin mengambang agar komentar bisa masuk dari segala sisi yang akhirnya kita bisa saling berinteraksi tanpa ada sekat ruang dan waktu. Anggota Edelweis yang mungkin sekarang berdomisili dari Sumatera sampai Papua bisa ikut nimbrung tanpa perlu hadir secara fisik terlebih dulu di Mabes tertjinta. Saya selalu membayangkan itu terjadi,saling komentar di blog kita ini sama ramainya ketika kita membicarakan batu akik atau foto-foto nyeleneh di forum yang lain yang kita miliki:).
Wassalam.
NB: ta tunggu komentarnya ya beb :)
Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas
Kenapa baru sekarang kenapa tidak dari dulu? karena sekaranglah waktu yang tepat menurut saya. Kenapa saya bilang begitu, karena setahun-dua tahun belakangan Sosial Media menuju Peak-nya. Nggilani kata orang Jogja. Mungkin sebagian teman ada membaca tulisan ini lewat smartphone yang sekarang rata-rata berlayar lebar, yang dulu mungkin jika kita mau membaca berita/artikel online harus ke warnet dulu atau di depan laptop yang terhubung Wi-Fi tapi sekarang tidak lagi,tinggal kita klik link-nya di smartphone dan Iqra. Kenapa revolusi tekhnologi ini kita tidak manfaatkan sebaik-baiknya, memperkenalkan kita sebagai Edelweis lewat buah pikir yang kita salurkan lewat tulisan. Tak ada persoalan sekat ruang dan waktu. Jangkauan yang tanpa batas. Jadi saya merasa sedikit aneh jika teman-teman sekarang berencana membuat Bulettin cetak. Tanpa mau menghalangi niat baik teman-teman namun ada sejentik hipokrisi yang saya tangkap di dalamnya.
Persoalan Hipokrisi a.k.a munafik kalau kita mau kasar menyebutnya sepertinya ada di kita. Blog ini kita buat bisa jadi sebagai otokritik terhadap saya,kita dan organisasi secara keseluruhan. saya teringat ketika saya mengikuti sesi interview PPAB yang kemarin,saya menangkap kita serentak menyebut ke-khasan yang kita punya dibanding Mapala-Mapala yang lain itu adalah menulis tapi jujur saja, lidah di saat menyebut bahwa menulis adalah salah satu core-nya kita, terasa kelu dan kecut,karena apa ya itu tadi kita munafik. Apa yang menunjukkan bahwa itu memang ke-khasan kita, laporan perjalanan? semua Mapala juga punya keuleus . Terus apa? praktis tidak ada. Kita mau bilang lihat saja di blog, tapi terakhir tulisan yang update mungkin tulisan 2-3 tahun yang lalu. So lewat "kejadian" itu saya mulai berpikir ada hal besar yang harus kita lakukan untuk tak selalu bersembunyi di balik kepura-puraan. Untuk melakukan hal yang besar katanya harus dimulai dari langkah yang kecil. Lewat blog ini lah saya berkomitmen untuk itu. Lewat blog ini kita coba pertanggung jawabakan bahwa memang Edelweis seperti itu. Memang tak ada yang baru, apa yang istimewa toh blog lagi blog lagi. supaya tidak jatuh kelubang yang sama lagi, maka saya berkomitmen setidaknya ada dua tulisan yang naik setiap bulannya, minta maaf kalo notifikasi Facebook teman-teman saya ganggu lewat postingan-postingan yang sebagian besar tulisan-tulisan saya.
Jadi dari penjelasan saya di atas mudah-mudahan tidak ada yang menganggap saya cari panggung sendiri:). Berhubungan dengan Buletin cetak tadi dengan Hipokrisi yang saya tangkap, yup saya merasa ada lompatan logika yang kita bentuk tanpa kita sadari. Blog ini sebenarnya juga berfungsi sebagai triger sebagai pelatuk untuk menuju kesana,tapi selama blog ini hadir sampai sekarang jarang ada yang "memakan"nya. Jadi bagaimana ceritanya kita mau membuat Bulettin yang kontennya lumayan banyak tapi tulisan 4-5 paragraph dari teman-teman tak pernah nongol di sini. Sekali lagi tanpa ada niatan saya menghalangi niat baik teman-teman, kita gagal memahami masalah. Masalahnya bukan Buletin kita yang tidak atau belum ada tapi budaya literasinya kita mati atau halusnya,budayanya belum tumbuh.
Maaf kalau dari tadi saya cerewet. Maaf juga kalau tulisan ini lompat-lompat, tidak terstruktur maklum amatiran coy:). Masih berbicara tentang blog ini. Mungkin ada yang merasa blog ini terasa terlalu hipster,apa apa yang sedang Hype, blog ini seketika bersuara. Bukan tanpa alasan kenapa seperti itu, karena lewat cara itulah saya merasa kita bisa ikut menjadi bagian dari sebuah zaman. Bahwa blog ini menjadi penanda bahwa Edelweis pernah ada di era tertentu. Bahwa Edelweis ada ketika pertama kali peraturan Mahasiswa Gondrong dilarang masuk Perpustakaan di Unhas terbit, bahwa Edelweis ada ketika peristiwa Tolikara terjadi di Papua, bahwa Edelweis hadir ketika dunia sepak bola kita sedang sakit, bahwa Edelweis ada ketika era menyinyiri Jokowi adalah makanan sehari-hari bangsa ini. Sampai yang paling Absurd Edelweis hadir ketika Rossi dan Marques gontok-gontokan gara-gara motor. Logikanya sesederhana itu selain persoalan menarik traffic/intensitas klik tentunya :). Alasan ini juga saya pakai kenapa blog ini menjadi media Hipster agar tingkatan update-tan nya tinggi. Karena jika kita kembali mengkhususkan bahwa blog Mapala harus yang Macho-Macho dan tangguh, takutnya nasibnya seperti pendahulu-pendahulunya. Bukan apa-apa jika cerita naik gunung kita lagi yang tayang maka mungkin update tulisan bisa-bisa 3 bulan sekali atau mungkin setahun sekali, menunggu kita naik gunung atau kita Ekspedisi dulu. Itulah kenapa blog kita sebelumnya tak terurus sampai kita lupa password dan e-mailnya :). Ngomong-ngomong soalan update meng update tulisan, kenapa setidaknya dua tulisan yang harus naik sebulannya, yang mungkin normalnya sekali seminggu, karena bertujuan untuk membentuk pembaca. Sedikit demi sedikit blog kita ini sudah punya pembaca setia loh. Karena saya tidak mau mengecewakan pembaca setia blog kita ini maka saya harus "galak" dalam soal meng-update tulisan. Biarpun tak banyak tapi saya merasa harus menghargai mereka. Kenapa blog-blog kita terdahulu gagal membentuk pembaca karena tadi itu updatenya sekali setahun jadi ya otomatis pasti akan ditinggalkan.
Eh ada yang kelupaan, masalah Bulettin cetak yang tadi. Dengar-dengar setiap terbit akan ada 100 sampai 200 eksemplar. Butuh uang banyak kalo dipikir-pikir, itupun kalau kita pikir. Uangnya dari mana? urunan? kayak kita tak mengenal diri kita sendiri saja :). Begini, ada ruang yang tak perlu memerlukan uang untuk menunjukkan eksistensi kita, gratis, jangkauannya luas, kenapa tak perkuat ini dulu saja. Kenapa cuma menyasar 100-200 orang yang kemungkinan membacanya dan kemudian beralih menjadi sampah ketika ada ruang yang jangkauannya lebih besar dari pada itu. Ini cuma tinggal klik and than go viral. Sekali lagi saya menegaskan, tak bermaksud menghalangi niat baik teman-teman.
loh kok bisa panjang dan seserius ini...hahahai. Mungkin dari cerita ngalor ngidul saya diatas bisa sedikit menjawab "kenapa Edelweis harus menulis?". Masih banyak yang kita bisa diskusikan sebenarnya. Saya tunggu komen teman-teman di kolom komentar. Saya bisa saja salah atau bisa saja benar untuk soalan kecil ini. Oh iya satu lagi, kenapa blog ini ada datang dengan current issue nya, karena jujur ruang diskusi di Mabes kelihatannya agak mulai tertutup. Karena keberadaan teman-teman mungkin sekarang-sekarang ini lebih banyak di media online,saya mencoba ruang diskusi itu saya pindahkan kesini, tapi mungkin tak ada yang menangkap itu. Banyak tulisan yang sengaja saya bikin mengambang agar komentar bisa masuk dari segala sisi yang akhirnya kita bisa saling berinteraksi tanpa ada sekat ruang dan waktu. Anggota Edelweis yang mungkin sekarang berdomisili dari Sumatera sampai Papua bisa ikut nimbrung tanpa perlu hadir secara fisik terlebih dulu di Mabes tertjinta. Saya selalu membayangkan itu terjadi,saling komentar di blog kita ini sama ramainya ketika kita membicarakan batu akik atau foto-foto nyeleneh di forum yang lain yang kita miliki:).
Wassalam.
NB: ta tunggu komentarnya ya beb :)
Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas





First shoot!
Cuma bisa bilang salut tuk tulisan ini,,,👍👍👍
Kenapa tdk dari dulu ya,,,
kayaknya kurang tepat bila edelweis itu diibaratkan manusia yg harus bernapas. Mendaki gunung, panjat tebing dan susur gua adalah sebuah pilihan bagi para edelweiser (tidak diharuskan), kalaupun diharuskan mungkin pada saat proses saja.
Terkait kenapa edelweis harus menulis ku pikir memang saatnya mi edelweis mengembangkan diri lewat literasi. Tagline "bertualang dan meneliti" yang selama ini menjadi ciri khas kita ku pikir pada masa sekarang ini sudah banyak diluar sana yang melakukan demikian.
Hunting point yg selama ini kita harapkan untuk membiasakan calon anggota untuk menulis (salah satu item) toh juga tidak maksimal, mungkin karena statusnya yg bersifat pilihan (tidak wajib)
Mungkin saranku kalau terimaki anggota suruhki bikin essay, entah apalah temanya :)
yup,agak susah memang menaruh kata wajib di organisasi mahasiswa macam Edelweis,karena "wajib" tidak memiliki konsekuensi apapun.mendaki,memanjat dan menyusuri terlihat menjadi wajib karena edelweis ada karena itu tidak ada alasan lain yang bisa lebih kuat dari itu. persoalan analogi relatif lah.
kita ini membangun lagi dari nol memang untuk persoalan budaya menulis/literasi di edel. kalau memang untuk membangun budaya itu lewat essay yang di wajibkan kepada calon anggota kenapa tidak. jangka pendeknya menurut saya siapapun anggota edelweis yang punya concern menulis apapun itu,hajar saja dulu.mudah-mudahan pelan-pelan terbangun dan yang lain mengikuti.
Yang hobi menulis tetaplah menulis, yg suka memasak teruskan keahlianmu, yg keranjingan manjat berlatihlah terus, yg terbiasa berdiskusi mari berdiskusi, yg gemar berpuisi ayo berpuisi... kita akan menjadi kesatuan yg kuat. Karena bakat kita sudah ditentukan kemananya. Bukan begitu wan??
ya nggak gitu :)))