Kenapa kita bisa begitu mencintai Rossi? jawabannya mudah, Rossi bagi saya bukanlah seorang atlet tapi sudah sampai pada taraf Art-is,pada level Seniman. Dia tidak saja cepat di lintasan tapi dengan "Seni" yang dimilikinya kita dibuat kagum,dibuat terhibur,dibuat meleleh. Tak ada lagi level diatas seni kecuali pencipta Seni itu sendiri yaitu Tuhan. Jadi tak mengherankan Edi Iyubenu,seorang kandidat Doktor Islamic Studies mengatakan bahwa Rossi sudah sampai pada taraf Makrifat dalam membalap dibanding pembalap-pembalap kekinian macam Pedrosa,Lorenzo dan Marques yang baru di tataran Syariat. Ibarat anak pesantren Rossi sudah khatam Al-Quran beratus kali plus kitab kuningnya.
Pabrikan mana yang tak mau ada Rossi di dalam timnya. Tak saja mahir dalam hal tikung menikung tapi Rossi tau bagaimana motor itu diperlakukan. Ducati moncer tahun ini karena ada peran Rossi selama dia membuang-buang waktunya 3 tahun di sana. Yamaha membangun settingan motor sampai bisa sedahsyat sekarang karena ada Rossi yang menjadi Sokoguru-nya yang diam-diam dicontek oleh tim mekanik Lorenzo :). Apalagi yang kurang dari "dewa" macam Rossi ini.
Rossi tak punya cacat sama sekali sampai peristiwa kemarin terjadi. why Rossi?why?. Akal sehat saya belum bisa mencerna sampai sekarang kenapa Rossi bisa sebodoh itu melakukan "tendangan" kepada Marques. Ketika peristiwa itu terjadi terus terang ada kegagapan, ada henyak, ada keterkejutan dalam diri ,seorang yang saya sudah anggap nabi ini sekonyong-konyong membuat hal konyol seperti itu. Bukan bermaksud untuk sok objektif apalagi sok bijak,sorry to say Rossi bagaikan orang yang baru balapan kemarin sore.
level balapan MotoGP itu sudah pada level nabi Adam (guyonan masa-masa kuliah), atensi dan tensi nya sangat tinggi. jadi hal-hal yang dikatakan orang bahwa ada konspirasi antara Mark dan Lorenzo untuk menggagalkan Rossi untuk juara dunia bisa saja ada dan terjadi. But wait apakah konspirasi itu memang benar adanya.Ataukah kita cuma asyik berasumsi dan mengatakan seolah-olah itu benar? hanya Mark dan Tuhan yang tau. selama masih asumsi toh tak akan bisa menjadi teori pembenaran atas apa yang dilakukan Rossi terhadap Mark. Rossi lah yang pertama kali melontarkan dugaan-dugaan itu, dan kita turut pula meng-Amini. mungkin karena kita kebanyakan membaca teori-teori konspirasi macam Iluminati,UFO,sampai 9/11 hingga kita ikutan mabok pada soalan ini. katanya ini dimulai di Australia lalu, pertanyaannya kenapa Mark tak membiarkan Lorenzo menjadi juara?toh yang menghalangi Rossi si Ianone itu bukannya Mark.
Logikanya tak masuk untuk Rossi. Masa hanya karena dikerjain seorang bocah ingusan sampai-sampai Rossi Baperan sebegitunya, kok jadi cemen. Rossi punya segalanya untuk membalas itu jika memang benar adanya.Apakah seorang Rossi yang memiliki pengalaman membalap bertahun-tahun dengan gelar juara dunia yang bejibun hanya memiliki opsi memberi "tendangan" agar seorang bocah macam Mark tahu yang namanya sopan santun.Come on men, you are the Legend. buktikan dengan elegan. Karena ini balapan ya hadapi sampai titik gas penghabisan. jangan klemer-klemer macam Lorenzo yang gara-gara embun di helm dijadikan alasan ketika jadi pecundang dibeberapa race yang lalu. Sudahlah untuk trademark banyak alasan dan sering complain biarlah Lorenzo yang jadi pemiliknya, Rossi tak usah ikut-ikutan,beda level boy.
Bukan Mark yang menyebabkan Rossi bisa-bisa gagal meraih juara dunianya yang le-10 menurut saya, tapi Rossi sendiri. bagaimana logikanya Mark yang dipersalahkan sedangkan Mark yang jadi "korban" di sini. Rossi telah memilih opsi A bahwa untuk menghentikan Mark harus dengan cara "ditendang",padahal masih ada opsi B,C,D dan opsi-opsi lainnya yang mungkin bisa dipilihnya.
Mencoba menghidmati Rossi dari peristiwa yang terjadi kemarin. jelas ada pressure yang begitu tinggi yang baru dia rasakan sekarang ketika karir balapnya mungkin sudah menuju senja. Rossi seakan insecure menghadapi bocah-bocah gila macam Lorenzo apalagi Mark. Ketakutan-ketakutan yang ada dipikirannya seakan terlalu mengganggu. seperti perempuan muda yang SMS nya tak dibalas sang pacar akhirnya uring-uringan dan berpikir macam-macam bahwa pacarnya selingkuh dengan wanita lain,padahal pacarnya cuma lagi sedang tidur. Seperti inilah Rossi sekarang, pikiran-pikiran yang menghantui bahwa Mark menjahilinya, bahwa ada konspirasi sesama pembalap Spanyol, bahwa ada usaha untuk menjegalnya untuk meraih juara yang ke 10 kali, padahal sebenarnya mungkin hal itu tak pernah ada. Akhirnya ketidak nyamanan itu terwujud dalam laku, sayangnya dengan cara yang negatif.
Tak ada nila yang merusak susu, tak ada hujan sehari menghapus kemarau seratus tahun. Meskipun Rossi sudah menuju menopouse tapi tak kan ada yang bisa menyangkal bahwa Rossi adalah Legenda, Rossi adalah cerita yang mungkin akan diceritakan oleh Mark kepada anak-anaknya kelak. Hukuman telah dijatuhkan, fakta terungkap bahwa benar Rossi "menendang" Mark, mari kita nikmati saja seri yang tersisa di Spanyol nanti karena ada sinyal-sinyal bahwa mungkin ini bisa menjadi balapan terakhirnya di kelas utama. Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi karena apa jadinya MotoGP tanpa Rossi, mengutip seorang wartawan senior di media center Sepang kemarin "mungkin saya tidak akan pernah meliput MotoGP lagi jika Vale sudah pensiun" tuturnya dengan
nada lirih.Darmawansyah Gunawan
*Penulis adalah anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas
.






doni tata yg salah
tidak sekalian Jokowi yang salah