Manusia Ke-Hijau-Hijauan

Kabut tipis dengan raungan jangkrik yang menenangkan. Dengan secangkir kopi dan beberapa potong pisang yang telah digoreng, di beranda rumah saya menikamati bersama bapak tua yang baru saja pulang dari sawahnya”. sedikit dari banyaknya status ataupun caption serupa yang sering kita temui entah di facebook, Path maupun di twitter kita-kita.  Terasa menikmati kita dengan itu semua atau kah kita cuma berpura. Iya kita mungkin pura-pura.  Bukankah kita meninggalkan itu semua agar kita bisa dikatakan menjadi manusia modern. Kita meninggalkan desa menuju kota agar hidup tak dikata kampungan. Kita menyukai gedung-gedung tinggi dan lampu-lampu terang karena menandakan disitu ada kemajuan.  Dari beberapa kita lahir dan besar dari situasi seperti itu, kita meninggalkannya dengan sadar. Kita tak mau dicap orang sebagai orang kampung, sekali lagi kita tak mau mengakuinya. Namun ketika kita telah berdasi dengan mobil di garasi kita kembali tergopoh menyapa suasana itu dan seolah-olah rindu pada sesuatu yang sebenarnya biasa.  Dengan menjual kesederhanaan dan mengekspos kebersahajaan orang-orang desa agar ada batas hierarki dengan kita sebagai orang kota dengan dibumbui ketebelece caption back to nature.

Back to nature, go green apalah istilahnya kini menjadi benchmark kita sebagai orang kota untuk mengisi tuntutan gaya hidup. Sebagai orang kota yang “peduli” yuk mari membuat komunitas untuk menyelamatkan bumi yang telah kita rusak sendiri. Mari menanam bakau di pesisir, setelah itu kita reklamasi, kita timbun kita jadikan tol kita jadikan taman beton. Yuk mari kita berkebun di atap gedung, dilahan kosong terhimpit beton, yuk mari setelah itu kita foto-foto ya. Tak jauh dari tempat itu banyak kebun terbengkalai karena tak diurus lagi. Oh mungkin karena letaknya tak di kota, jangan sampai ada  ketidak sesuaian tema dengan gerakan kita,******berkebun.

Dengan jam tangan Alexander Christy melingkar di  ujung lengan kiri, pak Rangga memacu sepedanya menyusuri kota dengan bersepeda. Kalau saya taksir harga sepedanya mungkin seharga motor. Dengan semangat bersama rekan mengayuh sepeda yang di sadel belakangnya bertuliskan komunitas ‘Bike To Work” menuju kantor masing-masing. Tak jauh dari situ di sebrang jalan ada pak Wagiman mengayuh Ontelnya yang setiap hari dia pakai juga menuju tempatnya bekerja di pasar induk. Dengan sayur membumbung di sadel belakangnya tentu saja tanpa tulisan “Bike to work”. Ya iyalah pak Wagiman tak mungkin bergabung di komunitas itu, lah wong di garasi rumahnya tak ada Alphard tak ada Harley yang terparkir,  cuma ada  Ontel itu satu-satunya.

“Kita ini Mapala tapi kok tak pernah kita membahas dan bergiat pada isu-isu lingkungan sih?” tanyaku beberapa tahun yang lalu dengan beberapa teman. Dalam diam sesaat, akhirnya ada jawaban yang keluar, dia menjawab “ Mapala itu sudah menjadi terminologi nya sendiri. Pun ada kata cinta alam di dalamnya tak serta merta kita harus menjadi petugas kebersihan ataupun menjadi bagian dinas sosial ataupun lingkungan hidup”. Oh oke seraya mengangguk saya coba mengerti. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat entah itu brosur atapun flyer yang berisi kumpulan Mapala yang memperjuangkan sebuah kawasan agar dijadikan warisan dunia dan dilindungi PBB. Saya tersenyum kecil membacanya dan seketika dalam hati teriak, kemana aja bung selama ini. Apakah ada kepala terbentur berjamaah yang akhirnya Amnesia. Katanya kita MAPALA.

Akh kamu Wan bisanya cuma bisa kritik saja tanpa melakukan apa-apa. Eh saya ingatkan ya ini bukan kritik ini lebih dari itu, ini nyinyiran saya sob, hahahaha. Oke-oke saya kelihatannya tak melakukan apa-apa dibanding komunitas-komunitas itu tapi setidaknya saya tak menjadi manusia hipokrit.


NB: Semua nama di atas adalah fiktif kecuali nama saya tentunya…ok sob

*Darmawansyah Gunawan
Anggota UKM PA Edelweis Sastra Unhas

This entry was posted in

2 Responses so far.

  1. Unknown says:

    Terus bagaimana dengan produk yang #BukanBasaBasi bung?

  2. Unknown says:

    saya tidak tau arah pertanyaan dan maksudmu bung, tapi kalau rokok yang jadi maksud menurut saya rokok isunya jarang atau malah tidak pernah digiring kearah lingkungan. tapi selalu soalan sosial, kesehatan dan "Industri Nasional".

Leave a Reply

    Pengikut

    Redaksi

    Anda dapat berkontribusi dimedia ini. Kontribusi dapat berupa opini, reportase, prosa, review film, buku, musik dan lain-lain. Segera Hubungi kami ! Email : ukmpaedelweis_fsuh@yahoo.com Facebook : Edelweis sastra unhas Twitter : @edelweis_FSUH Redaksi kami di : Gazebo Edelweis Unhas, sekeretariat UKM P.A EDELWEIS FS-UH, Ruang 001-002 Lt. Dasar, Fakutas Sastra, Universitas Hasanuddin, Km 10 Tamalanrea. Kode Pos: 90245 Makassar – Indonesia